Menjajal Sensasi Bagel

Kompas.com - 17/02/2012, 10:49 WIB

BAGI pemula, mencicipi bagel seperti menjajal sensasi baru. Roti bundar berlubang di tengah ini bentuknya ”serupa” donat, tetapi rasanya sama sekali berbeda.

Bagel bisa jadi belum akrab di kebanyakan lidah orang Indonesia. Namun, di sejumlah kota Eropa dan Amerika Serikat, bagel adalah bagian dari menu sarapan yang paling mudah dijumpai.

Dibandingkan dengan donat, roti bundar berlubang ini berukuran lebih montok. Sensasi pertama muncul begitu mulai menggigitnya. Tekstur bagel terasa agak keras pada gigitan pertama. Namun, begitu dikunyah, muncul rasa kenyal dan lembut di bagian dalam roti yang memanjakan lidah. Dengan tekstur yang bikin penasaran itu, bagel meladeni banyak selera.

Bagel pada dasarnya berasa tawar, diolah dari adonan tepung terigu atau gandum dan ragi. Dengan tangan, adonan bagel lalu dibentuk bundar-bundar dengan lubang kecil di bagian tengah—karena itu, bentuk bagel di satu nampan pun tak pernah benar-benar seragam. Sebelum dipanggang di oven, adonan bagel direbus. Metode itulah yang memunculkan tekstur khasnya: kering renyah atau cenderung agak keras di lapisan luar, tetapi kenyal dan empuk di dalam.

Sebagaimana layaknya roti, bagel bisa ”diperkaya” dengan sentuhan rasa lain untuk memenuhi beraneka selera. Di bagian luarnya, bagel bisa dibubuhi biji selasih atau biji wijen. Di New York—yang penduduknya disebut-sebut paling ”fanatik” dengan bagel—roti ini juga biasa dibelah horizontal lalu diolesi krim keju di bagian dalam, ditangkupkan lagi, lalu siap disantap.

Kedai di Kemang

Di Jakarta, mulanya bagel hanya disajikan di hotel-hotel berbintang demi mengakomodasi selera tamu asing, terutama untuk sarapan. Bagel juga diproduksi Vineth Bakery yang membuat aneka roti dan pastry. Konsep ”warung” yang khusus menjual bagel baru diperkenalkan BagelBagel di kawasan Kemang pada 2011.

Fathia Syarif bersama tiga sahabatnya memulai BagelBagel dari sebuah ruang kecil dengan konsep kedai khusus bagel. Pembeli datang untuk membawa pulang bagel atau bisa juga bersantap di beberapa set meja-kursi yang disediakan di situ. BagelBagel juga menyediakan layanan pesan-antar yang kini sudah menjangkau seantero Jakarta.

Meski tak sedikit pelanggannya dari kalangan ekspatriat, Fathia mengatakan, sebagian besar pembelinya kini justru mereka yang baru pertama kali ”berkenalan” dengan bagel di kedai mungil itu.

BagelBagel memperkenalkan bagel dengan cita rasa New York—kering dan renyah di luar, tetapi lembut dan agak kenyal di dalam. Fathia dan sahabat-sahabatnya yang memiliki kedai ini memang pernah tinggal di Amerika Serikat. Namun, BagelBagel tak hanya memboyong menu bagel ala negeri Paman Sam itu.

Selain cita rasa klasik, aneka kreasi bagel juga disuguhkan di sini. BagelBagel menawarkan sembilan macam bagel. Selain bagel polos dan gandum, bisa ditemukan pula bagel keju—dibubuhkan di kulit luar dan dalam adonan, bagel rasa bawang putih, kayu manis, chips cokelat, serta bagel dengan taburan selasih dan wijen. Ada juga bagel ”everything” yang memadukan beberapa bumbu.

Menggoda

Bagel sungguh lebih menggoda ketika diolah menjadi semacam sandwich dengan varian menu, seperti salad tuna, thai spicy chicken, bagel turkey panggang, bagel dengan sisipan philly cheese steak, hingga bagel dengan telur orak-arik, keju, dan daging sapi yang menjadi favorit pencinta telur.

Roti lapis bagel berbeda dari roti lapis biasa karena kerenyahan dan kekenyalan rotinya. Menyantap roti lapis bagel menuntut tambahan waktu untuk melumatkan sekaligus menikmati kelezatan yang tinggal di mulut.

Menurut Fathia, sambutan untuk BagelBagel sebagai pendatang baru di ajang jajan kuliner Jakarta di luar dugaan. Dalam sebulan sejak dibuka, total penjualan BagelBagel pada hari kerja sudah berkisar dua kali lipat dari yang semula ditargetkan para pemilik kedai ini. Penjualan pada akhir pekan bahkan mencapai lima kali lipat dari target semula.

Selain BagelBagel, pendatang baru lain yang juga memperkenalkan bagel di Jakarta adalah Delico Bagel. Gerai Delico khusus menjual bagel untuk dibawa pulang. Gerai ini berada di Plaza Senayan dan Plaza Indonesia.

Bagel juga punya sejarah. Konon, roti ini mulai dibuat pada awal abad ke-17 di kalangan masyarakat Yahudi di Eropa Timur yang mengenal aturan tentang bahan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Bagel aslinya tidak mengandung produk turunan hewan, seperti telur, susu, dan daging. (Nur Hidayati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau