Kesalahan Umum Para "Hairdresser"

Kompas.com - 17/02/2012, 17:10 WIB

KOMPAS.com - Kecantikan seorang perempuan juga dipengaruhi oleh tatanan rambutnya. Tak heran banyak perempuan yang tertantang untuk menjadi seorang penata rambut di salon. Namun, penata rambut sebenarnya merupakan profesi yang cukup berat, karena membutuhkan skill dan pengetahuan khusus. Selain itu, seorang hairdresser profesional akan menghadapi beragam tantangan. Dalam acara Matrix Education Tour 2012 di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu, penata rambut terkenal Rudy Hadisuwarno menyampaikan beberapa tantangan dan kesalahan fatal yang sering dilakukan para hairdresser ketika menjalankan tugasnya.

1. Kurang skill. Ketika menata rambut di salon, pasti Anda akan mempercayai seorang penata rambut untuk mempercantik rambut Anda. "Banyak hairdresser yang hanya otodidak karena mereka punya bakat, tetapi tidak mengikuti kursus dan lainnya. Ini tidak salah, namun dalam dunia tata rambut tidak cukup hanya bakat saja, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan formal tentang beberapa hal penting ketika menangani masalah rambut," tegas Rudy.

Rudy menambahkan, ada beberapa hal dalam dunia tata rambut yang harus dipelajari secara khusus, tidak cukup hanya bermodalkan bakat atau pengetahuan yang dipelajari sendiri. Misalnya tentang tren rambut terbaru, menciptakan kreasi rambut baru, berbagai teknik potongan, sampai perawatan rambut lainnya.

2. Kurang mengedukasi. Bagi setiap pelanggan, seorang hairdresser pasti memiliki pengetahuan lebih dan mahir dalam urusan rambut. Tak jarang pelanggan sangat mengharapkan sang hairdresser juga berbagi pengetahuan tentang perawatan rambut yang tepat. "Selama ini hairdresser hanya menjalankan tugasnya menata rambut saja, namun tidak memberikan edukasi kepada pelanggan tentang perawatan rambut yang cocok, misalnya setelah mengecat rambut. Ia hanya mengecat rambut saja tanpa memberi tahu cara merawat rambut berwarna yang tepat," bebernya.

3. Kurang menguasai produk. Inilah kesalahan paling fatal yang dilakukan rata-rata hairdresser. Setelah melakukan beberapa survei terhadap para hairdresser di Indonesia, Rudy mengungkapkan bahwa masih banyak hairdresser yang tidak memiliki penguasaan terhadap produk yang digunakan, terutama di kota-kota kecil di Indonesia. "Ini sangat bahaya, karena perawatan ini menggunakan bahan kimia yang jika salah aturan pakai atau takarannya bisa menyebabkan gatal, alergi, rontok, ataupun ketombe," ujarnya.

Sebagian besar produk yang ada di salon merupakan produk kimia yang punya aturan pemakaian yang berbeda. Produk cat rambut dengan merek yang berbeda pun biasanya memiliki aturan pakai dan takaran yang berbeda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau