Ketahanan energi

Mimpi Swasembada BBM

Kompas.com - 18/02/2012, 06:43 WIB

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) menargetkan swasembada bahan bakar minyak bisa terwujud tahun 2018 demi meningkatkan ketahanan energi nasional. Ini berarti, Indonesia akan terbebas dari ketergantungan terhadap impor BBM untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang terus meningkat.

Saat ini, total kapasitas pengolahan minyak mentah pada enam kilang Pertamina yang ada adalah 1,16 juta barrel per hari. Dari pasokan minyak mentah sebagai bahan baku, keenam kilang itu memproduksi bahan bakar minyak 41 juta kiloliter per tahun, antara lain premium 12 juta kiloliter, solar 18,3 juta kiloliter, kerosene atau minyak tanah 7 juta kiloliter, dan avtur 3,3 juta kiloliter.

Sementara kebutuhan nasional telah mencapai 56 juta kiloliter per tahun dan terus meningkat dengan laju konsumsi rata-rata 4 persen per tahun. Dengan tingkat kebutuhan nasional itu, premium dari kilang Pertamina hanya memenuhi 54 persen dari kebutuhan dan produk solar memenuhi 86 persen dari total kebutuhan.

Pemenuhan kebutuhan BBM secara nasional yang terus meningkat sulit mengandalkan kilang-kilang Pertamina yang rata-rata dibangun sejak tahun 1970-1980. Dengan tingkat efisiensi rendah dan kapasitas terbatas, perseroan itu hingga kini masih mengimpor BBM untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak.

Namun, rencana pembangunan kilang baru yang telah diwacanakan sejak lama tak kunjung terealisasi sehingga melanggengkan ketergantungan terhadap impor BBM dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak di Tanah Air. Minimnya insentif kilang dan dukungan pendanaan menandakan ketahanan energi belum menjadi prioritas.

Dengan tingkat margin rendah dan nilai investasi sangat besar, pembangunan kilang baru harus terintegrasi dengan petrokimia dan perlu ada insentif bagi investor. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah melalui regulasi dan pemberian sejumlah insentif bagi investor, pembangunan kilang baru sulit diwujudkan.

Untuk meningkatkan kemampuan operasi dan margin kilang yang sudah ada, manajemen Pertamina berencana mengeksekusi proyek-proyek pendukung langsung operasi kilang yang ada saat ini. Salah satunya adalah proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Cilacap dengan nilai investasi 1,4 miliar dollar AS yang mulai digarap akhir Desember lalu.

Proyek itu untuk meningkatkan produksi BBM, khususnya bahan bakar dengan oktan tinggi dan memiliki kualitas lebih tinggi (Euro IV Spec) serta memperbaiki margin kilang pengolahan IV Cilacap secara keseluruhan. Dengan beroperasinya proyek itu, volume produksi gasolin diharapkan meningkat 1,9 juta kiloliter per tahun, menambah produksi elpiji 352.000 ton per tahun, dan memproduksi propylene 142.000 ton per tahun sebagai bahan baku petrokimia industri plastik.

Kompleks kilang pengolahan pertama dibangun tahun 1974 dan kompleks kedua dibangun tahun 1981. Kilang itu memiliki kapasitas produksi terbesar dari kilang Pertamina lain, yaitu 348.000 barrel per hari, setara 35 persen dari total kapasitas kilang Pertamina. Saat ini, volume produksi gasolin dari kilang Cilacap mencapai 3,8 juta kiloliter per tahun dengan kontribusi 30 persen terhadap kebutuhan gasolin nasional.

Sejumlah proyek disiapkan untuk meningkatkan margin kilang dan produksi BBM. Pertamina juga akan membangun dua kilang baru dengan kapasitas masing-masing 300.000 barrel minyak mentah per hari, yakni Kilang Balongan Baru, Indramayu, berkapasitas produksi BBM 9,6 juta kiloliter ditargetkan mulai beroperasi tahun 2017. Adapun Kilang Tuban, Jawa Timur, akan mulai produksi BBM 8,29 juta kiloliter tahun 2018.

Targetnya, produksi BBM yang sebelumnya 41 juta kiloliter per tahun bertambah menjadi 66,7 juta kiloliter per tahun. Namun, sejauh ini calon investor masih menunggu insentif kilang dari pemerintah mengingat margin kilang relatif kecil, sedangkan kebutuhan investasi untuk membangun kilang baru mencapai 9 miliar dollar AS.

Ketidakjelasan insentif ini dikhawatirkan membuat investor mengalihkan investasinya ke negara lain. Belum lagi persoalan pembebasan lahan yang terganjal oleh melambungnya harga tanah di lokasi proyek. Jika persoalan itu tak kunjung diatasi, mimpi berswasembada BBM sulit diraih. (EVY RACHMAWATI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau