Selamat Jalan Whitney Houston

Kompas.com - 19/02/2012, 08:49 WIB

NEWARK, KOMPAS.com -- Amerika Serikat dan juga dunia, khususnya penggemar musik pop, Sabtu (18/2/2012) waktu setempat, mengantar Whitney Houston ke peristirahatan terakhir di Newark, New Jersey, AS. Semua kenangan tentang dia hanya akan tinggal di sanubari. Namun, saat pemakamannya, kenangan itu terungkit kembali.

Kantor berita Associated Press menuliskan, bagi dunia, Houston adalah ratu pop bersuara perfek, diva menawan dengan kecantikan yang memukau. Namun, dia sekaligus seorang superstar yang menderita kecanduan narkoba dan akhirnya menjadi korban dari sisi hitam sebuah ketenaran.

Bagi keluarga dan sahabat-sahabat, dia itu "nippy", orang yang energik dan susah diam. Ini adalah sebuah nama julukan untuknya sejak kecil dan terbawa hingga dewasa. "Nippy" kemudian menjadi nama sebuah perusahaan miliknya. Bagi mereka, Houston adalah saudari, sahabat, seorang putri, dan juga seorang ibu bagi putrinya, Bobbi Kristina.

Kevin Costner hadir

Ibunya, Cissy Houston, melahirkan tiga anak dari dua suami karena Cissy bercerai dari suami pertama. Bersama Cissy, Houston pernah berduet dan melahirkan lagu hit berjudul "I Know Him So Well", yang sebelumnya sudah tenar lewat duet Barbara Dickson dan Elaine Paige.

Pada Sabtu pagi, para penggemar sudah berkumpul di New Jersey hanya untuk mengatakan selamat jalan untuk Houston. Mereka mencoba sedekat mungkin ke Gereja New Hope Baptist. Akan tetapi, mereka gagal mendekat karena berbagai persimpangan menuju acara pemakaman telah diblokade oleh kepolisian.

Hanya sekitar 1.500 tamu khusus yang bisa hadir langsung di gereja. Mereka mengantar Houston yang dimakamkan di samping ayahnya, John Houston, di dekat Westfield, New Jersey. Ayahnya wafat tahun 2003. Pemakaman sengaja tertutup untuk umum. Bagi keluarga, Houston sudah menjadi milik dunia sejak 1985. Keluarga menginginkan sebuah suasana khusus di rangkaian terakhir perjalanan hidup Houston.

Akan tetapi, penggemar tidak mau dan tetap menunggu di luar kompleks dekat gereja. Mereka membawa bunga, kartu ucapan, dan balon-balon yang dipersembahkan untuk almarhumah. Sejumlah oportunis bisnis juga tidak lupa menjajakan suvenir dan CD berisikan suara dan film yang pernah dibawakan Houston.

Para penggemar datang dari berbagai penjuru, termasuk mereka yang datang dari Washington DC dan Miami (Florida). Acara pemakaman berlangsung persis sepekan setelah Houston meninggal dunia pada Sabtu (11/2/2012, waktu setempat) di sebuah hotel di Beverly Hills, California. Pekan lalu, saat berkunjung ke Beverly Hills, Presiden AS Barack Obama sengaja menginap di hotel itu untuk mengenang Houston.

Pimpinan Kepolisian Newark Samuel DeMaio meminta para penggemar tetap tinggal di rumah karena acara pemakaman ditayangkan. Penggemar tidak menuruti itu, tetapi tetap datang walau tidak bisa berbuat apa-apa. "Whitney, kamu telah memberi kami cinta lebih dari apa yang kami butuhkan. Beristirahatlah dalam damai," demikian tulisan di sebuah spanduk dari penggemar.

Selebritas yang hadir antara lain teman terdekat keluarga Aretha Franklin, yang selalu dipanggil Houston sebagai "Tante Ree". Stevie Wonder, Alicia Keys, Dionne Warwick, sepupu Houston, hadir serta turut berbicara di acara pemakaman. Oprah Winfrey, Elton John, Beyonce, dan Bill Cosby juga hadir.

Raja bisnis musik, Clive Davis, yang meluncurkan dan mengarahkan karier Houston, hadir. Demikian pula Kevin Costner, pasangan Houston yang bermain dalam film The Bodyguard, yang sangat laris itu, terlihat hadir.

Mantan suami, Bobby Brown, juga hadir bersama Bobbi Kristina, satu-satunya putri pasangan ini. Houston dan Brown menikah tahun 1992, tetapi bercerai tahun 2007 setelah terjebak dalam berbagai persoalan, termasuk pemukulan fisik oleh Brown terhadap Houston.

Masalah kehidupan dan kecanduan narkoba hingga kematian menyebabkan Houston seperti sebuah bintang yang jatuh dari sebuah kehormatan. Dia berusia 22 tahun saat memiliki lagu yang bertengger di tangga teratas berjudul "Saving All My Love For You" tahun 1985.

Lagu lain, seperti "I Will Always Love You", "The Greatest Love of Al", dan "I’m Every Woman", terus melambungkan namanya. Penghargaan baginya berupa enam Grammy adalah saksi kukuh atas semua prestasi penyanyi bersuara indah, bertenaga, dan membuat pendengarnya seperti terlambungkan ke angan yang tinggi.

Bendera setengah tiang

Bahkan, hingga mendekati ajalnya, Houston masih mencoba tampil kembali lewat album dan lagu "I Look To You" tahun 2009. Penjualan lagu ini tetap kuat, tetapi tidak lagi diikuti dengan lantunan suara seperti sedia kala. Rangkaian tur yang direncanakan untuk promosi lagu terbaru itu dibatalkan karena dia sakit dan alasan lain. Penampilannya tidak lagi prima.

Ini kontras dengan penampilan awalnya yang kelihatan innocent, lugu, tetapi memukau berkat warna suara yang indah. "Dia memiliki sesuatu yang spesial," kata Jesse Jackson, seorang tokoh kulit hitam, yang juga pernah bertarung menjadi bakal calon presiden AS.

Penghormatan terakhir tidak saja datang dari rekan dan penggemar. Gubernur New Jersey Chris Christie memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sepanjang hari Sabtu hanya untuk menghormati Houston.

Di tengah suasana sendu, ada penggemar yang mengatakan datang bukan mengikuti acara pemakaman semata. "Saya juga ingin mengenang kehidupannya," kata Bobby Brooks dari Washington. "Saya ingin bernyanyi dan berdansa dengan orang-orang yang mencintai Houston." (AFP/AP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau