Bbm subsidi

Petani Butuh Tanah Ketimbang Uang Tunai

Kompas.com - 20/02/2012, 07:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah belum memutuskan bagaimana pengaturan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan dilakukan per April mendatang. Mungkin saja pemerintah akan menaikkan harga BBM dan disertai dengan pemberian bantuan langsung tunai (BLT) seperti yang pernah dilakukan.

Tapi pemberian BLT diyakini Indonesian Human Rights Committee adalah hal yang keliru. "Petani lebih butuh tanah daripada BLT, nelayan butuh ruang untuk ikan," sebut Ketua Eksekutif IHCS, Gunawan, kepada Kompas.com, di Jakarta, Minggu (19/2/2012).

Gunawan menilai, pemerintah Indonesia punya sumber keuangan yang rendah tetapi sumber kekayaan alamnya berlimpah. Sumber yang berlimpah ini patut untuk diprioritaskan dan digali. Gunawan menyerukan, pemerintah harus melihat bagaimana ruang hidup nelayan dan petani yang kian sempit. Pemerintah juga harus punya kebijakan bagaimana harga jual ikan menguntungkan bagi nelayan. Pemberian BLT, kata dia, tidak bisa mengatasi masalah hal itu. "Ruang hidup nelayan sempit, lahan sempit. Itu mengakibatkan BLT tidak relevan dengan produsen pangan," tegas dia.

Lebih pas, kata dia, pemerintah mengatur agar volume konsumsi BBM bersubsidi sesuai dengan segmen masyarakat yang membutuhkan misalnya BBM untuk nelayan, petani, transportasi hingga industri. "Misalnya melaut pakai BBM bagaimana pengaturannya, per segmen (sektor perekonomian) itu harus jelas pengaturan," pungkasnya.

Untuk diketahui saja, pemberian BLT pernah dilakukan pemerintah ketika kenaikan harga BBM bersubsidi dilakukan pada tahun 2005 dan 2008. BLT pun pernah dikaji untuk diberikan ketika sedang maraknya penyuntikan tabung elpiji 3 kg dan 12 kg yang menimbulkan masalah yakni ledakan gas elpiji di kalangan konsumen rumah tangga. Pemberian BLT untuk elpiji rencananya untuk menghilangkan perbedaan harga yang tinggi antara kedua produk.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau