JAMBI, KOMPAS.com - Setelah menghilang sejak 1 Februari lalu, seorang bocah perempuan berusia 14 tahun, warga di kawasan Pemancar, Jambi, akhirnya ditemukan. Siswi kelas VIII sebuah SMP di kota Jambi ini diketahui berada di Pati, Jawa Tengah saat pihak keluarga menjemputnya pada 14 Februari lalu.
Orang tua korban, S saat ditemui di kediamannya, Minggu (19/2/2012) sore menjelaskan, proses pencarian putri mereka hanya mengandalkan pesan singkat dan telepon yang diduga berasal dari tersangka. Ia meminta bantuan polisi untuk menyadap lokasi nomor yang digunakan.
Setidaknya ada tiga kali kontak, yakni SMS tanggal 5 Februari yang mengatakan tak usah mencari anak itu lagi. Kemudian tanggal 9 Februari korban sempat menelepon yang mengabarkan ada di Pati, Jawa Tengah, dan tanggal 11Februari pelaku kembali menelepon lagi kepada temannya, dan menyatakan akan memulangkan korban. Kesemuanya dilakukan dengan nomor yang berbeda.
Namun kontak yang terakhir itu agak janggal, karena korban mengatakan hanya boleh dijemput oleh temannya, Har (teman dekat korban) dan orang tua sama sekali tidak boleh ikut. Ada indikasi bahwa itu hanya pancingan untuk membawa korban lebih banyak. Dari sinilah Suparjo berinisiatif ikut menjemput korban bersama Har, dibantu kerabat yang ada di Palembang dan Semarang.
Ternyata benar, saat berada di lokasi pertemuan, Har yang saat itu dibonceng oleh kerabat yang menyamar menjadi tukang ojek menemui korban. Namun oleh si pengajak korban tidak diserahkan, melainkan mereka diajak untuk menginap kembali di padepokan. Saat itulah pelaku ditangkap. Dari keterangan pesuruh itulah diketahui identitas pelaku hipnotis.
Hingga kemarin S sengaja membiarkan anaknya beristirahat total di rumah. Hal ini mengingat kondisi korban yang belum stabil sejak kepulangannya.
Diduga efek hipnotis yang belum bersih, korban selalu hilang kesadaran ketika mengingat-ingat kejadian yang dialaminya. Baru setelah membakar habis barang-barang yang ia bawa selama diculik, kondisi korban sedikit demi sedikit pulih.
Diakui S, kejadian itu di luar dugaannya. Selama ini perhatian untuk anaknya itu, menurutnya sudah diupayakan seoptimal mungkin. Setiap berangkat sekolah selalu diantar, begitu pula saat pulang. Seperti di hari korban menghilang, ia sendiri yang mengantar korban ke sekolah. Namun ketika hendak dijemput oleh ibunya, kabar mengejutkan muncul dari pihak sekolah bahwa korban tidak masuk pada hari itu.
Berdasarkan keterangan korban, sesaat setelah diantar ke sekolah ia ditelepon seseorang dan sekejap itu ia sudah tak ingat apa-apa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang