BOCAH laki-laki itu menangis sesunggukan. Tangis bocah bernama Elang (10), siswa kelas IV SD, itu kian menjadi ketika disinggung mengenai musibah yang baru saja menimpa keluarganya.
Anak keempat pasangan Juli Rojali (45) dan Neneng Kusmiati (36), warga Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tercatat sebagai korban selamat musibah ambruknya jembatan bambu di kampungnya, Minggu (19/2/2012).
Elang rupanya masih terbayang sang adik, Jahra (6), yang hingga Minggu malam belum diketahui nasibnya setelah terbawa arus deras aliran Sungai Cihideung. Sehari sebelumnya Elang sempat bertengkar dengan Jahra memperebutkan ponsel ayahnya. ”Iya, kami bertengkar memperebutkan HP milik Bapak,” katanya.
Perasaan Elang tambah tak karuan karena tidak kuasa menolong sang adik yang dibawa hanyut arus air deras yang keruh. Saat itu Elang beserta beberapa orang sudah berada di ujung jembatan, sedangkan Neneng dan Jahra meniti batang bambu yang dialasi potongan bambu kecil.
Elang melihat adiknya mengacungkan kedua tangan ke atas. ”Saya lihat dede (Jahra) berteriak minta tolong. Saya tak bisa menolong karena airnya besar,” kata Elang.
Andika Lesmana (10), rekan Elang, menuturkan cerita serupa. Ada dua korban yang ia perhatikan, yakni bocah perempuan bernama Septia Rizki Alamsyah (10) dan Jahra.
Septia jalan di belakang Andika. Saat Andika tiba di ujung jembatan tiba-tiba terdengar suara ”bruk”. ”Eh, jembatan ambruk. Saya lihat ke belakang, Septia terjatuh ke sungai,” kata Andika.
Menurut Neneng Kusmiati, ia dan kedua anaknya berangkat menuju mushala yang tak jauh dari rumahnya sekitar pukul 08.00. Di tempat itu diselenggarakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW.
”Sehabis dari sana, ada ibu-ibu mengajak ke kampus IPB. Katanya ada Mauludan juga di GOR Dramaga. Ternyata, setelah kami ke sana, tidak ada kegiatan. Lalu pulang lewat titian bambu itu supaya dekat,” kata Neneng.
Edi Junaedi (45), warga RT 06 RW 2, menuturkan, istrinya, Neni Nuraini (37), yang tengah hamil anak kedua, menjadi korban selamat. Neni mengalami luka-luka di bagian kepala, siku, dan lutut. Neni membawa putri semata wayang mereka, Dini Novianti (9), yang terbawa arus dan belum ditemukan.
”Saat itu anak dan istri saya mau ikut. Saya sudah melarang karena hari hujan,” tuturnya. Junaedi punya firasat buruk jauh hari sebelumnya. ”Dua minggu berturut-turut saya punya mimpi buruk. Mungkin firasat ya,” ujarnya.
Dua minggu lalu, pedagang sembako di Desa Cibanteng itu mimpi gigi sebelah kanan atas copot. ”Saya tanya orangtua, katanya hati-hati, takutnya ada musibah,” ujarnya.
Seminggu lalu ia bermimpi lagi. ”Dalam mimpi itu saya ingat lewat kuburan muslim di kampung Cibanteng sini. Saat itu tiba-tiba muncul angin besar dan cuaca gelap. Saya takut luar biasa. Saya tiba-tiba terbangun, sekitar pukul 02.00,” kata Junaedi.
Ia masih terkenang akan tabiat putri tunggalnya yang kini belum diketahui nasibnya. ”Dini anak saya satu-satunya, jadi manja. Kalau istri kasih uang Rp 2.000, saya sering tambah Rp 3.000,” katanya mengenai siswa kelas IV SD Negeri Cibanteng itu.
Sang istri belum dapat melupakan musibah yang menimpanya. Ia mengigau, memanggil-manggil nama Dini. (tribunnews/amb)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang