Jembatan ambrol

Jahra Acungkan Tangan Minta Tolong

Kompas.com - 20/02/2012, 09:08 WIB

BOCAH laki-laki itu menangis sesunggukan. Tangis bocah bernama Elang (10), siswa kelas IV SD, itu kian menjadi ketika disinggung mengenai musibah yang baru saja menimpa keluarganya.

Anak keempat pasangan Juli Rojali (45) dan Neneng Kusmiati (36), warga Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tercatat sebagai korban selamat musibah ambruknya jembatan bambu di kampungnya, Minggu (19/2/2012).

Elang rupanya masih terbayang sang adik, Jahra (6), yang hingga Minggu malam belum diketahui nasibnya setelah terbawa arus deras aliran Sungai Cihideung. Sehari sebelumnya Elang sempat bertengkar dengan Jahra memperebutkan ponsel ayahnya. ”Iya, kami bertengkar memperebutkan HP milik Bapak,” katanya.

Perasaan Elang tambah tak karuan karena tidak kuasa menolong sang adik yang dibawa hanyut arus air deras yang keruh. Saat itu Elang beserta beberapa orang sudah berada di ujung jembatan, sedangkan Neneng dan Jahra meniti batang bambu yang dialasi potongan bambu kecil.

Elang melihat adiknya mengacungkan kedua tangan ke atas. ”Saya lihat dede (Jahra) berteriak minta tolong. Saya tak bisa menolong karena airnya besar,” kata Elang.

Andika Lesmana (10), rekan Elang, menuturkan cerita serupa. Ada dua korban yang ia perhatikan, yakni bocah perempuan bernama Septia Rizki Alamsyah (10) dan Jahra.

Septia jalan di belakang Andika. Saat Andika tiba di ujung jembatan tiba-tiba terdengar suara ”bruk”. ”Eh, jembatan ambruk. Saya lihat ke belakang, Septia terjatuh ke sungai,” kata Andika.

Menurut Neneng Kusmiati, ia dan kedua anaknya berangkat menuju mushala yang tak jauh dari rumahnya sekitar pukul 08.00. Di tempat itu diselenggarakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

”Sehabis dari sana, ada ibu-ibu mengajak ke kampus IPB. Katanya ada Mauludan juga di GOR Dramaga. Ternyata, setelah kami ke sana, tidak ada kegiatan. Lalu pulang lewat titian bambu itu supaya dekat,” kata Neneng.

Edi Junaedi (45), warga RT 06 RW 2, menuturkan, istrinya, Neni Nuraini (37), yang tengah hamil anak kedua, menjadi korban selamat. Neni mengalami luka-luka di bagian kepala, siku, dan lutut. Neni membawa putri semata wayang mereka, Dini Novianti (9), yang terbawa arus dan belum ditemukan.

”Saat itu anak dan istri saya mau ikut. Saya sudah melarang karena hari hujan,” tuturnya. Junaedi punya firasat buruk jauh hari sebelumnya. ”Dua minggu berturut-turut saya punya mimpi buruk. Mungkin firasat ya,” ujarnya.

Dua minggu lalu, pedagang sembako di Desa Cibanteng itu mimpi gigi sebelah kanan atas copot. ”Saya tanya orangtua, katanya hati-hati, takutnya ada musibah,” ujarnya.

Seminggu lalu ia bermimpi lagi. ”Dalam mimpi itu saya ingat lewat kuburan muslim di kampung Cibanteng sini. Saat itu tiba-tiba muncul angin besar dan cuaca gelap. Saya takut luar biasa. Saya tiba-tiba terbangun, sekitar pukul 02.00,” kata Junaedi.

Ia masih terkenang akan tabiat putri tunggalnya yang kini belum diketahui nasibnya. ”Dini anak saya satu-satunya, jadi manja. Kalau istri kasih uang Rp 2.000, saya sering tambah Rp 3.000,” katanya mengenai siswa kelas IV SD Negeri Cibanteng itu.

Sang istri belum dapat melupakan musibah yang menimpanya. Ia mengigau, memanggil-manggil nama Dini. (tribunnews/amb)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau