Muhaimin Mengaku Tidak Kenal Rosa

Kompas.com - 20/02/2012, 15:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengaku tidak mengenal Mindo Rosalina Manulang apalagi meminta fee delapan persen dari anak buah Muhammad Nazaruddin itu.

"Saya tidak kenal, tidak pernah (minta fee)," kata Muhaimin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Jakarta, Senin (20/2/2012). Muhaimin yang dikawal ketat petugas keamanan itu enggan menjawab sederet pertanyaan pewarta yang telah menunggunya pada persidangan di Pengadilan Tipikor hari ini.

Nama Muhaimin disangkut-pautkan dalam pernyataan kuasa hukum Rosa, Ahmad Rifai, yang menyebutkan bahwa ada seorang menteri yang meminta jatah uang kepada Rosa dari dua proyek dengan total nilai Rp 180 miliar. Rifai mengungkapkan bahwa menteri tersebut minta fee sebesar delapan persen ke Rosa. Menurut Rifai, menteri tersebut adalah petinggi Partai Politik yang akan bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pekan ini.

Berdasarkan catatan, ada dua menteri yang bersaksi di Tipikor pekan ini, yaitu Muhaimin serta Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng. Hari ini Muhaimin bersaksi untuk dua mantan anak buahnya, I Nyoman Suisnaya dan Dadong Irbarelawan, dalam kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau