Tips & catatan

Ketika Canon Berkata "Tidak"

Kompas.com - 21/02/2012, 02:37 WIB

ARBAIN RAMBEY

Pengantar redaksi: Awal Februari ini, Klinik Fotografi Kompas diundang Canon ke Pameran Fotografi tahunan CP+ di Yokohama, Jepang, sekaligus mengunjungi kantor pusat Canon di Tokyo. Hasil kunjungan ke Jepang tersebut akan diturunkan dalam dua tulisan, Selasa ini dan Selasa mendatang.

Walau diundang Canon, kedua tulisan akan menampilkan realitas teknologi secara netral berdasarkan fakta yang ada.

Masalah ”mirrorless camera”

Di era digital dekade ketiga ini (dekade pertama 1990-2000, dekade kedua 2000-2010), hal yang paling menjadi pembicaraan adalah mirrorless camera atau kamera tanpa cermin. Dimulai oleh Olympus yang meluncurkan EP-1 pada 1999, kamera jenis ini segera menjadi perbincangan karena berbagai keunggulan dan keunikannya.

Agar menjadi jelas, baiklah dijelaskan bahwa mirrorless camera adalah sistem kamera dengan lensa tunggal yang lensa-lensanya bisa dilepastukarkan. Pengertian lensa tunggal adalah jendela bidik dan sensor kamera memakai lensa yang sama. Artinya, kalau tutup lensa dipasang, jendela bidiknya akan gelap total.

Setelah EP-1 muncul di pasaran dan merebut hati banyak penggemar fotografi, satu per satu perusahaan kamera memproduksi kamera jenis ini, dimulai dengan Sony yang segera meluncurkan serial Nex-nya. Saat ini bisa dikatakan bahwa tinggal Canon yang belum punya mirrorless camera setelah belum lama lalu Nikon meluncurkan seri 1-nya (v1 dan j1).

Mengapa Canon belum juga meluncurkan kamera jenis ini?

Ini jawaban Kenichi Shimbori, Executive Director Group 2 Canon, saat ditanya apakah Canon akan membuat mirrorless camera dalam waktu dekat.

”Tidak,” katanya, yang langsung membuat enam wartawan dari Indonesia di depannya sibuk mencatat. ”Setidaknya itu jawaban saat ini,” tuturnya diplomatis.

Shimbori mengakui bahwa mirrorless camera telah merajai di lima negara besar, yaitu Korea, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan bahkan Jepang.

”Namun, itu bukan alasan bagi Canon untuk segera membuat kamera serupa,” katanya.

Sementara itu Mitsuo Matsudaira, Executive Director Group 3 Canon, mengatakan, popularitas mirrorless camera terletak pada kepraktisan pemakaian dengan mutu setingkat kamera DSLR (digital single-lens reflex).

”Kami menjawab popularitas mirrorless camera dengan Canon G1x,” katanya. Kamera yang disebut Matsudaira, yang biasa dipanggil Mickey, ini memang revolusioner karena memang menjadi jembatan antara kamera DSLR dan kamera kompak atau juga sering disebut kamera saku (bisa masuk saku dengan mudah).

Selama ini, kalau menyebut kamera saku, kita selalu berhadapan dengan kamera yang memang mungil dan praktis, tetapi sulit untuk dipakai memotret dalam cahaya redup. Masalah utama kamera kompak adalah ukuran sensornya yang kecil sehingga butir-butir pembentuk gambarnya akan tampak jadi kasar saat foto itu dibesarkan.

Akan halnya Canon G1x, kamera ini menjadi revolusioner dan memang layak ”menantang” mirrorless camera dari dua sisi.

”Popularitas mirrorless camera adalah ukurannya yang mungil dan kepraktisannya, tetapi bisa menghasilkan gambar selayaknya DSLR,” papar Mickey, ”dan kedua hal itu bisa dijawab pada G1x.”

Sensor besar

Para wartawan Indonesia, yang semuanya lalu dipinjami G1x, memang merasakan bahwa hasil pemotretan kamera yang melanjutkan seri G (terakhir adalah G12) ini memang setara DSLR kelas menengah. Dalam pemotretan model pada pencahayaan redup, perbesaran foto sampai beberapa kali lipat pun seperti pada contoh di halaman ini, masih menghasilkan foto yang halus dan tajam.

Kekuatan G1x memang pada ukuran sensornya yang besar, seperti bisa dilihat perbandingannya dengan sensor-sensor lain pada diagram di halaman ini. Ukuran sensor G1x cuma kalah sedikit dibandingkan dengan ukuran APSC yang menjadi sensor terbanyak pada DSLR, termasuk sensor Nex.

Selanjutnya bagaimana? Mungkin ini yang menjadi pertanyaan para penggemar fotografi: benarkah mirrorless camera tidak menarik bagi Canon.

Masih dalam wawancara di kantor pusat Canon, beberapa eksekutif Canon tetap menolak berkomentar soal mirrorless camera.

”Kalau saja cermin dianggap membuat lambat reaksi kamera, setidaknya Canon masih punya teknologi half mirror yang dulu dipakai di EOS 1v,” kata Masaya Maeda, yang merancang kamera still video di tahun 1980-an.

Bagaimanapun, memang Canon belum akan membuat mirrorless camera. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau