Ilmuwan Indonesia Temukan Teknik Baru Pengobatan Epilepsi

Kompas.com - 21/02/2012, 14:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Taruna Ikrar Ph.D., ilmuwan Indonesia yang menempuh post-doctoral di School of Medicine, University of California, Irvine, AS, menemukan teknik baru pengobatan kejang epilepsi. Penemuan tersebut dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit yang terbit pada 20 Januari 2012 lalu.

Taruna dalam surat elektronik kepada Kompas.com beberapa waktu lalu menuturkan, kejang epilepsi merupakan manifestasi ketidakseimbangan aliran dan sirkuit listrik di otak. Ketidakseimbangan ini ditentukan oleh sel saraf yang berfungsi sebagai inhibitory (sel-sel pengontrol) dan excitatory (sel-sel saraf yang menimbulkan loncatan arus listrik).

"Jika sistem saraf excitatory yang dominan dan tidak teratur, kondisi ini menyebabkan loncatan arus listrik di otak yang tidak terkendali, dan pada akhirnya bermanifestasi berupa kejang, mulai dari level ringan hingga level yang sangat berbahaya," jelas Taruna.

Teknik pengobatan kejang epilepsi yang digunakan dalam penelitian Taruna berbasis pada sinkrinisasi fungsi saraf inhibitory dan excitatory. Lewat teknik aktivasi genetik, aktivitas saraf tertentu bisa ditingkatkan atau diturunkan untuk mendapatkan keseimbangan.

Secara spesifik, teknik yang digunakan adalah manipulasi reseptor Allostatin (AlstR), sistem ligan yang telah dikembangkan untuk memenangkan secara selektif dan dapat bekerja secara cepat pada sistem saraf mamalia.

Taruna mengatakan, AlstR dijadikan sebagai target agar mampu menurunkan aktivitas saraf excitatory sekaligus merangsang fungsi saraf inhibitory.

Seperti diuraikan dalam publikasinya, Taruna menjelaskan bahwa penelitian keefektifan teknik tersebut diujikan pada tikus putih yang telah didesain agar mampu mengekspresikan AlstR dan protein fluorescent hijau (GFP).

"Ditemukan ekspresi Cre-AlstRs yang secara khusus menyandi sistem saraf jenis inhibitory, yang menunjukkan dapat bekerja secara spesifik untuk meng-inaktivasi saraf pada saat diberikan obat allatostatin. Ini berarti dapat secara spesifik dan berefek kuat baik pada tingkat sel tunggal ataupun dalam tingkatan populasi sel-sel saraf," papar Taruna.

Taruna juga menjelaskan, penerapan peptida allostatin juga menunjukkan efek yang sangat nyata dengan mengurangi aktivitas loncatan listrik pada penelitian yang menggunakan AlstR dengan ekspresi sel saraf dalam menanggapi suntikan intrasomatic dan photostimulation. Sementara, pada sistem saraf tanpa ekspresi AlstR, perlakuan yang sama tak berpengaruh sama sekali.

Sejauh ini, diketahui bahwa epilepsi pun bersifat progresif. Penderita epilepsi mengalami peningkatan frekuensi kejang yang semakin parah. Bahkan, 50 persen penderita masih mengalami kejang walaupun telah menjalani pengobatan.

Hasil riset, kata Taruna, bisa menjadi harapan cara pengobatan kejang epilepsi di masa depan. Teknik itu bisa membantu mengatasi epilepsi menahun dan parah yang belum ditemukan obatnya.

Taruna Ikrar adalah ilmuwan Indonesia kelahiran Makassar yang menamatkan studi doktor di bidang ilmu penyakit jantung di Universitas Niigata, Jepang. Penelitian tentang teknik pengobatan kejang epilepsi ini dikerjakannya bersama ilmuwan lain dari University of California Irvine dan Salk Institute for Biological Studies di San Diego.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau