Agraria

Redistribusi Lahan Masih Wacana Saja

Kompas.com - 22/02/2012, 02:41 WIB

Jakarta, Kompas - Reformasi agraria, berupa redistribusi lahan yang didengungkan pemerintah, rupanya hanya berhenti pada wacana. Masalah agraria masih diwarnai tumpang tindih sektoral dan keberpihakan pemerintah pada pemilik modal.

Persoalan itu mengemuka dalam Diskusi Publik ”Mencari Format Penyelesaian Konflik Pertanahan di Indonesia” yang diselenggarakan Kaukus Muda Indonesia (KMI), Selasa (21/2). Narasumber diskusi adalah Syahganda dari Sabang-Merauke Circle, I Ketut Mangku dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), Taqyuddin (Universitas Indonesia), dan Wakil Ketua Komisi II DPR Hakam Naja.

Menurut Hakam, terkait redistribusi lahan, seharusnya masalah tanah itu diselesaikan dulu agar tidak timbul masalah baru. Karena itu, harus dibuat sistem agar masyarakat yang menerima tanah itu benar-benar yang membutuhkan dan bisa mengelola. Selain itu, harus ada aturan, mereka tidak menjual lagi tanahnya kepada pemodal. ”Dibuat seakan-akan tanah itu milik komunitas dan dikelola secara komunal,” katanya.

Ketut mengatakan, selama ini sempat dilakukan redistribusi tanah oleh BPN, misalnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun, persoalan tanah memang pelik dan kompleks. Padahal, BPN sebenarnya hanya berfungsi mencatat hal-hal yang sudah mempunyai ketetapan hukum.

Pentingnya hak atas tanah sebagai hak rakyat juga dikatakan Syahganda dan Taqyuddin. Namun, keduanya melihat ketidakadilan dalam sistem hukum dan ekonomi di negeri ini, yang membuat rakyat tidak memiliki akses atas hak atas tanah. ”Kembalikan tanah yang diambil secara tidak legal,” kata Syahganda.

Taqyuddin menuturkan, masalah mendasar dalam pertanahan di negeri ini adalah tidak adanya lembaga yang memiliki otoritas dalam mengatur tanah. BPN hanya berfungsi untuk mencatat, sementara sektor saling tumpang tindih. (EDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau