Pembunuhan

Polisi Ragukan Motif Aksi John Kei

Kompas.com - 22/02/2012, 02:45 WIB

Jakarta, Kompas - Polisi masih meragukan motif pembunuhan Direktur Power Stell Mandiri Tan Harry Tantono (45) alias Ayung. Sejumlah saksi mengatakan, pembunuhan yang diduga dilakukan John Kei dan kawan-kawan bermotif menagih utang.

Demikian disampaikan Wakil Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta, didampingi Kepala Subdirektorat Ditreskrimum Polda Metro Ajun Komisaris Besar Helmy Santika kepada wartawan, Selasa (21/2).

”Kalau motifnya menagih utang atau menagih fee, cara yang mereka tempuh sudah sangat berlebihan. Sepengetahuan saya, tak ada kelompok penagih utang menempuh cara brutal seperti yang mereka lakukan. Korban mendapat 32 luka. Tujuh di antaranya luka tusuk dan luka gorok,” tutur Nico.

Oleh karena itu, lanjut Nico, polisi berusaha memperoleh cerita utuh mengenai kasus ini lewat penjelasan para tersangka lain. Untuk mendapat penjelasan lengkap, polisi harus mendapatkan ke-10 pria lain yang kini masih buron. Ke-10 pria itu adalah bagian dari 16 pria yang terekam CCTV (close circuit television) hotel tempat Ayung dibunuh.

Di tempat lain, Direktur Direktorat Narkoba Polda Metro Komisaris Besar Nugroho Aji mengatakan, Alba Fuad, artis tahun 1980-an yang sekamar dengan John Kei saat digerebek di kamar 501, Hotel C’One, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (17/2) malam, diancam penjara maksimal 12 tahun.

”Hasil tes urine menunjukkan, tersangka mengonsumsi sabu. Di rumahnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, polisi menemukan 0,5 gram sabu dan bong,” ucap Nugroho, kemarin.

Artis film Olga dan Sepatu Roda itu dijerat Pasal 112 Ayat 1 subsider Pasal 127 juncto Pasal 114 Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009.

Pra-peradilan

Tim kuasa hukum John Refra alias John Kei akan mengajukan gugatan pra-peradilan terkait penangkapan John Kei. Tito Refra, kuasa hukum John Kei, mengatakan, materi gugatan pra-peradilan itu akan diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam waktu dekat.

Tito menyampaikan hal tersebut kemarin, saat dia di Rumah Sakit Polri RS Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Tito didampingi pengacara lainnya, Taufik Chandra. ”Kami menggugat institusi (Polri) soal prosedur penangkapannya,” kata Tito, kemarin.

Selain menempuh upaya hukum dengan menggugat Polri ke pengadilan, tim kuasa hukum juga sedang mengupayakan pemindahan John Kei dari RS Polri ke rumah sakit lainnya. ”Kami menginginkan perawatan terbaik untuk beliau,” ujar Tito.

Menanggapi rencana gugatan pra-peradilan tersebut, Kepala Polda Metro Inspektur Jenderal Untung S Rajab mengatakan itu hak setiap orang.

Kemarin siang, sekitar pukul 12.20, Untung datang ke RS Polri Jakarta Timur. Ia masuk ke Ruang Tembesu, ruang perawatan tahanan tempat John Kei dirawat. Sekitar lima menit kemudian, Untung dan rombongan keluar dari ruang perawatan.

Tidak seperti biasanya, siang itu tampak puluhan polisi bersenjata laras panjang berjaga di sekitar RS Polri. Penjagaan pun diperketat. Mereka yang akan masuk ke Ruang Tembesu digeledah.

Lebih lanjut Untung menegaskan, apa yang dilakukan jajarannya saat menangkap John Kei sudah sesuai dengan prosedur standar operasional. Ia mengatakan, selain sudah terlatih, anak buahnya sudah diberi arahan sebelum bertindak.

Untung menyatakan, kedatangannya ke RS Polri untuk mengetahui kondisi pasien di RS Polri. Kapolda Metro menyatakan dirinya tidak mengenal John Kei ataupun Tan Harry Tantono alias Ayung, yang ditemukan meninggal di kamar hotel Swiss Belhotel. ”Masa saya harus kenal setiap orang,” katanya.(COK/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau