Faktor

Strategi Asia dalam Krisis Zona Euro

Kompas.com - 22/02/2012, 03:36 WIB

RENÉ L PATTIRADJAWANE

Hari Minggu (19/2), untuk pertama kali China-Jepang bersepakat memberi dukungan bersyarat bagi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu mengatasi krisis utang di kawasan Eropa. Ini sesuatu yang jarang terjadi.

Dalam pertemuan antara Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan dan Menteri Keuangan Jepang Jun Azumi disepakati dukungan soal peran penting IMF dalam mengatasi kekacauan zona euro.

Namun, mereka mengingatkan IMF untuk mencabut batasan dana penyelamatan sebesar 500 miliar euro dari Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) kalau menginginkan negara anggota G-20 non-Eropa ikut mengatasi krisis zona euro.

Kesepakatan China-Jepang terjadi sehari sebelum para menteri keuangan Uni Eropa bertemu di Brussels, Belgia, merundingkan pencegahan kebangkrutan Yunani. Ada dua faktor penting tecermin dalam pertemuan yang tidak biasa antara China dan Jepang setelah Krisis Keuangan Asia 1997.

Pertama, pesan yang ingin disampaikan Beijing adalah Asia menjadi tumpuan harapan untuk membantu krisis zona euro yang sudah berlangsung selama lima tahun. Cadangan devisa China-Jepang kalau digabungkan mencapai sekitar 5 triliun dollar AS. Ini cukup memadai membantu krisis zona euro sekaligus menjadi mitra IMF menyelesaikan masalah Yunani, negara gagal.

Kesepakatan China-Jepang juga menjadi sebuah pesan tentang keberhasilan perjanjian Multilateralisasi Inisiatif Chiang Mai yang melibatkan ASEAN+3 (China, Jepang, Korea Selatan), yang akan mencapai finalisasi currency swap. Ini melibatkan jumlah dana 120 miliar dollar AS. Finalisasi berlangsung pada Maret mendatang. Kesepakatan ASEAN dan tiga mitranya dirancang untuk mengatasi krisis moneter seperti yang terjadi sekitar 15 tahun lalu di Asia.

Mudah bersekutu

Langkah China-Jepang mengantisipasi krisis zona euro ini juga menjadi bagian penting menuju kerja sama kedua negara Asia sebagai kekuatan ekonomi dominan. Mereka berperan aktif dalam globalisasi yang memasuki masa resesi panjang, termasuk strategi untuk mengetuai Bank Dunia dan IMF yang selama ini dijatah hanya untuk Amerika dan Eropa saja.

Kedua, kesepakatan bekerja sama menghadapi krisis zona euro oleh China dan Jepang juga memiliki logika regional dan multilateral sendiri. Ini termasuk mengubah atau setidaknya memengaruhi dominasi AS di kawasan Asia, khususnya melalui Kemitraan Trans-Pasifik yang menjadi kontraproduktif di tengah kehadiran dan keberhasilan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Logika strategis China-Jepang ini juga termasuk mengupayakan penggunaan mata uang yuan atau yen sebagai alternatif pengganti dominasi dollar AS kelak. Dalam kasus China, misalnya, ada 70.000 lebih perusahaan China yang beroperasi di luar negeri dengan menggunakan mata uang yuan.

Ambisi China berhadapan langsung dengan AS akan menghadapi berbagai persoalan. Ini membuat China lebih mudah bersekutu dengan Jepang membentuk pilar pertumbuhan global. Dan ini menjadi tindakan categorical imperative seperti disebut Immanuel Kant di tengah paradoks kapitalisme tentang kekayaan dan kemiskinan global. Krisis globalisasi sekarang bukan lagi menjadi perdebatan ideologis, melainkan persoalan persebaran kesejahteraan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau