RENÉ L PATTIRADJAWANE
Hari Minggu (19/2), untuk pertama kali China-Jepang bersepakat memberi dukungan bersyarat bagi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu mengatasi krisis utang di kawasan Eropa. Ini sesuatu yang jarang terjadi.
Dalam pertemuan antara Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan dan Menteri Keuangan Jepang Jun Azumi disepakati dukungan soal peran penting IMF dalam mengatasi kekacauan zona euro.
Namun, mereka mengingatkan IMF untuk mencabut batasan dana penyelamatan sebesar 500 miliar euro dari Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) kalau menginginkan negara anggota G-20 non-Eropa ikut mengatasi krisis zona euro.
Kesepakatan China-Jepang terjadi sehari sebelum para menteri keuangan Uni Eropa bertemu di Brussels, Belgia, merundingkan pencegahan kebangkrutan Yunani. Ada dua faktor penting tecermin dalam pertemuan yang tidak biasa antara China dan Jepang setelah Krisis Keuangan Asia 1997.
Pertama, pesan yang ingin disampaikan Beijing adalah Asia menjadi tumpuan harapan untuk membantu krisis zona euro yang sudah berlangsung selama lima tahun. Cadangan devisa China-Jepang kalau digabungkan mencapai sekitar 5 triliun dollar AS. Ini cukup memadai membantu krisis zona euro sekaligus menjadi mitra IMF menyelesaikan masalah Yunani, negara gagal.
Kesepakatan China-Jepang juga menjadi sebuah pesan tentang keberhasilan perjanjian Multilateralisasi Inisiatif Chiang Mai yang melibatkan ASEAN+3 (China, Jepang, Korea Selatan), yang akan mencapai finalisasi currency swap. Ini melibatkan jumlah dana 120 miliar dollar AS. Finalisasi berlangsung pada Maret mendatang. Kesepakatan ASEAN dan tiga mitranya dirancang untuk mengatasi krisis moneter seperti yang terjadi sekitar 15 tahun lalu di Asia.
Langkah China-Jepang mengantisipasi krisis zona euro ini juga menjadi bagian penting menuju kerja sama kedua negara Asia sebagai kekuatan ekonomi dominan. Mereka berperan aktif dalam globalisasi yang memasuki masa resesi panjang, termasuk strategi untuk mengetuai Bank Dunia dan IMF yang selama ini dijatah hanya untuk Amerika dan Eropa saja.
Kedua, kesepakatan bekerja sama menghadapi krisis zona euro oleh China dan Jepang juga memiliki logika regional dan multilateral sendiri. Ini termasuk mengubah atau setidaknya memengaruhi dominasi AS di kawasan Asia, khususnya melalui Kemitraan Trans-Pasifik yang menjadi kontraproduktif di tengah kehadiran dan keberhasilan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
Logika strategis China-Jepang ini juga termasuk mengupayakan penggunaan mata uang yuan atau yen sebagai alternatif pengganti dominasi dollar AS kelak. Dalam kasus China, misalnya, ada 70.000 lebih perusahaan China yang beroperasi di luar negeri dengan menggunakan mata uang yuan.
Ambisi China berhadapan langsung dengan AS akan menghadapi berbagai persoalan. Ini membuat China lebih mudah bersekutu dengan Jepang membentuk pilar pertumbuhan global. Dan ini menjadi tindakan categorical imperative seperti disebut Immanuel Kant di tengah paradoks kapitalisme tentang kekayaan dan kemiskinan global. Krisis globalisasi sekarang bukan lagi menjadi perdebatan ideologis, melainkan persoalan persebaran kesejahteraan.