Tiga Korban Jembatan Ambrol Belum Ditemukan

Kompas.com - 22/02/2012, 07:19 WIB

BOGOR, KOMPAS - Lima dari delapan korban hanyut akibat ambruknya jembatan Sungai Cihideung, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga Selasa (21/2/2012) petang, sudah ditemukan.

Jenazah yang ditemukan pada hari pertama kejadian, Minggu, ialah Umamah (35), hanya berjarak beberapa ratus meter dari lokasi. Sementara pada Senin, dua jenazah ditemukan. Septia (10) ditemukan di Kecamatan Rumpin, sekitar 20 kilometer dari lokasi. Sore harinya, jenazah Maesaroh (10) ditemukan di Sungai Cisadane di Tangerang atau sekitar 30 kilometer dari lokasi.

Selasa pagi, jenazah Ajay (9) ditemukan di sekitar lokasi tempat penemuan jenazah Umamah. Sementara Selasa siang, jenazah Eka ditemukan di sekitar Jembatan Rancabungur atau sekitar 10 kilometer dari lokasi awal jembatan ambruk.

Sempat tertukar

Dua jenazah yang ditemukan tersebut sempat tertukar karena ada kesalahan mengenali ciri-ciri korban. Sempat terjadi kesalahpahaman karena jenazah Ajay dianggap Eka sehingga di kuburkan oleh pihak keluarga Eka.

"Ternyata salah mengenali baju korban. Awalnya Eka memakai baju kuning, sedangkan Ajay baju putih. Ternyata mereka bertukar pakaian sebelum kejadian sehingga salah mengenali," tutur Budi Aksomo, Koordinator Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor.

Menurut dia, kesalahan itu baru diketahui saat jenazah yang belakangan ditemukan teridentifikasi dan ada teman main mereka yang mengaku melihat kedua korban bertukar pakaian. Menurut Budi, kesalahan sudah diperbaiki dan nisan korban sudah ditukar.

Pencarian terus dilanjutkan

Pencarian korban dihentikan sementara pada petang kemarin dan akan dilanjutkan Rabu pagi guna mencari tiga korban lain, yakni Rafi (5), Zahra (6), dan Dini (10).

Seperti diberitakan, jembatan bambu yang menghubungkan Desa Cibanteng dengan Kampus Institut Pertanian Bogor ambruk Minggu pagi saat dilintasi 22 warga dewasa dan anak-anak yang hendak kembali ke kampung setelah mengikuti peringatan Maulid. Sebanyak 15 warga selamat, tetapi delapan orang hanyut.

Secara terpisah, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia, di Kota Bogor, meminta kecelakaan ini bisa membukakan pemahaman untuk memperbaiki infrastruktur di pedesaan, bukan hanya hanya mengurusi pembangunan jalan tol.

"Saya rasa bukan hanya di Bogor, seperti di Banten juga terjadi. Semua pemerintah daerah harus membangun fasilitas di pedesaan dan warga juga sama-sama memelihara dan tahu kapasitas. Jangan jembatan untuk tiga orang dilewati 10 orang," tuturnya. (GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau