Film Hollywood Picu Remaja Tenggak Miras

Kompas.com - 22/02/2012, 11:41 WIB

KOMPAS.com - Sebuah riset terbaru menunjukkan, remaja muda yang sering menonton film atau tayangan di mana isinya menampilkan produk alkohol berisiko dua kali lebih besar untuk mulai mencoba menenggak minuman keras ketimbang rekannya yang jarang menonton film yang serupa.  

Temuan juga mengindikasikan bahwa efek dari film tersebut secara signifikan mendorong para remaja untuk melakukan pesta minuman keras. Riset dipublikasikan dalam British Medical Journal.

Menurut peneliti, riset ini secara tidak langsung ingin memberti peringatan kepada pelaku industri film agar melakukan pembatasan adegan yang mengekspos penggunaan produk alkohol, sama  halnya seperti yang telah mulai diterapkan untuk produk tembakau.

Dalam risetnya, peneliti mengambil sampel lebih dari 6.500 remaja Amerika Serikat berusia antara 10 -14 tahun, yang secara rutin ditanyai tentang konsumsi alkohol dan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku mereka tersebut selama dua tahun ke depan.  Faktor-faktor itu di antaranya menonton film dan tayangan iklan, lingkungan rumah, dan perilaku teman sebaya.

Peneliti meminta kepada remaja untuk memilih secara acak 50 film dari 100 film yang masuk dalam top hit box office Amerika, ditambah 32 film yang mampu meraup penghasilan lebih dari 15 juta dollar AS pada kuartal pertama tahun 2003 - tahun pertama survei dilakukan.

Untuk mengetahui berapa banyak tayangan film yang memperlihatkan produk alkohol, peneliti mengukur menggunakan coders. Beberapa peserta mengaku melihat tayangan terkait penggunaan alkohol sekitar 4,5 jam dan bahkan ada yang melihatnya lebih dari delapan jam.

Sekitar satu dari 10 remaja (11 persen) mengatakan mereka memiliki barang bermerek, seperti kaus atau topi dengan nama bir atau anggur (wine). Dan hampir satu dari empat remaja (23 persen) mengatakan orang tua mereka minum alkohol setidaknya sekali dalam seminggu di rumah. Sedangkan sebanyak 29 persen remaja mengatakan mereka biasa minum alkohol di rumah.

Selama dua tahun, proporsi remaja yang mulai minum alkohol cenderung meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat dari 11 persen menjadi 25 persen.  Sedangkan proporsi yang memulai pesta minuman keras naik tiga kali lipat dari 4 persen sampai 13  persen.

Peneliti menyatakan, pengaruh alkohol dalam film menyumbang 28 persen dari proporsi remaja yang ingin mencoba-coba mengonsumsi alkohol dan sebanyak 20 persen remaja beralih ke pesta minuman keras.

"Di Amerika, penempatan produk tembakau dalam tayangan film sudah dilarang, tetapi hal ini tidak berlaku dengan produk alkohol. Padahal setengah dari film Hollywood menampilkan setidaknya satu merek alkohol, terlepas dari rating film tersebut," kata peneliti.

Peneliti menyarankan agar penayangan iklan berbau produk alkohol mendapat perlakuan yang sama dengan larangan iklan rokok, karena menurut mereka hal ini termasuk dalam masalah kesehatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau