NUSA DUA, KOMPAS.com — Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengemukakan, tidak seharusnya kebijakan soal pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia era 1980-an dinilai dalam konteks sekarang.
”Tahun 1980-an, ketika sawit dikembangkan, memang terjadi perusakan hutan. Akan tetapi, pada saat itu, isu-isu soal lingkungan dan perubahan iklim belum ada. Saat ini upaya mengembangkan industri sawit yang berkelanjutan terus dilakukan. Ekspansi lahan sawit pun hanya boleh dilakukan di kawasan hutan produksi konversi yang tidak berhutan dan bergambut,” papar Menteri Kehutanan, Rabu (22/2/2012), di Nusa Dua, Bali, dalam 3rd International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE).
Konferensi kali ini bertema ”Konservasi Hutan, Meningkatkan Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan”. Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya konservasi sumber daya hutan dan ekosistem sangat jelas. Tantangan sekarang bagaimana meningkatkan produksi sawit dengan tetap menjaga lingkungan.
Zulkifli menegaskan, aksi boikot terhadap pengembangan industri sawit oleh negara-negara maju tidak adil. Apalagi industri sawit bernilai ekonomi tinggi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Zulkifli meminta agar industri sawit mencari solusi untuk mengatasi masalah itu, terutama dalam mengatasi hambatan nontarif untuk produk sawit oleh negara-negara maju. Karena itu, perspekstif harus diubah, yakni dengan mengubah pengembangan industri sawit dari ancaman menjadi tantangan. Bagaimana mengembangkan ekonomi sekaligus konservasi.
Konferensi ICOPE akan fokus pada agenda utama, mulai pengelolaan hutan bernilai konservasi tinggi dan keanekaragaman hayati, upaya pengurangan emisi karbon, pemanfaatan jasa lingkungan hingga intensifikasi perkebunan rakyat.
Komisaris Utama PT SMART Tbk Franky O Wijaya mengatakan, sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien yang pernah ada. Dengan luas lahan sekitar 5 persen dari total luasan perkebunan dunia, sawit mampu memasok hingga 30 persen kebutuhan minyak sawit dunia.
Saat ini Indonesia memiliki luas perkebunan sawit 8 juta hektar dengan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai 23 juta ton. Dari produksi itu, 16 juta ditujukan untuk pasar ekspor.
Meski begitu, petani kecil yang menguasai lahan 40 persen sampai saat ini masih menemui kendala produktivitas dan baru menghasilkan 1,5 ton per hektar dari potensi yang bisa dicapai 7 ton. Kendala utama pada keterbatasan akses dan dukungan teknologi, pengetahuan, bibit berkualitas serta skema pendanaan.
”ICOPE diharapkan mampu menjadi wahana para pihak, seperti industri perkebunan, pengolahan, perdagangan, pakar, peneliti serta akademisi, LSM, lembaga keuangan hingga regulator atau pemerintah guna saling berbagi pengalaman seputar pengelolaan. Perkebunan sawit terbaik,” kata Franky.
Zulkifli mengatakan, luas lahan sawit di dunia saat ini 15 juta hektar atau sangat kecil dari total luas perkebunan dan pangan dunia yang mencapai 717 juta hektar. Luas tanaman kedelai dunia 102 juta hektar, jagung 163 juta hektar, beras 157 juta hektar, gandum 223 juta hektar. Namun, tidak pernah dipersoalkan dampak perusakan hutannya pada masa itu. Padahal, dengan 15 juta hektar luas sawit dunia mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati 30 persen. Bandingkan dengan kedelai dengan lahan 39 persen yang hanya memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia 29 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang