Jakarta Butuh Pemimpin yang Paham Pluralisme

Kompas.com - 22/02/2012, 17:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Seven Strategic Studies, Mulyana W Kusumah, mengatakan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2012-2017 harus memiliki visi teknokrasi untuk membangun Jakarta. Sehingga tidak salah langkah dalam menyelesaikan masalah di Jakarta. "Untuk membangun Jakarta, setidaknya pemimpin tersebut harus punya jiwa teknokrat," kata Mulyana, di Gallery Cafe, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (22/2/2012).

Selain itu, tingkat heterogenitas dan pluralitas di Jakarta juga terbilang tinggi dibanding dengan kota-kota besar lainnya. Untuk itu, menjadi pemimpin di Jakarta juga harus paham dan mengerti dengan makna pluralisme dan mampu menerapkannya. "Dengan begitu, pemimpin tersebut pasti mampu mengatasi konflik dengan tidak mengorbankan warga miskin," ujar Mulyana.

Menurut Mulyana, tokoh yang ideal untuk memimpin Jakarta bukanlah tokoh yang mengedepankan agama, aliran politik, atau golongan tertentu. Karena itu, besar harapan Gubernur DKI untuk periode mendatang tidak hanya mampu mengatur pemerintahan, tapi juga menjadi tokoh yang bisa diterima dalam keanekaragaman di Jakarta dan mampu mengatasi konflik yang terjadi di Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau