Romney, yang beberapa pekan lalu seolah melenggang sendirian tanpa perlawanan berarti, kini harus mencari cara untuk merebut keunggulan dalam isu-isu sosial, yang menjadi kelebihan Santorum.
Pada 28 Februari mendatang, pemilihan pendahuluan akan digelar serentak di Michigan dan Arizona, dua negara bagian yang penting bagi Romney. Mantan Gubernur Massachusetts itu lahir di Michigan, dan ayahnya, George W Romney, pernah menjabat Gubernur Michigan periode 1963-1969.
Di Arizona, Romney juga seharusnya mendapat dukungan besar karena banyak penganut Mormon—aliran keyakinan yang dipeluk Romney—di negara bagian tersebut.
Namun, beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan Santorum mengungguli Romney di Michigan, dan terus membayangi Romney di Arizona. Jajak pendapat Time-CNN, Selasa (21/2), menunjukkan, Romney hanya unggul tipis di Arizona dengan 36 persen dukungan, dengan Santorum meraih 32 persen.
Di Michigan, tempat kota pusat industri otomotif Detroit berada, sebagian warga menyebut Romney harus memberi penjelasan soal sikapnya yang pernah menentang dana talangan Pemerintah AS bagi industri otomotif saat krisis ekonomi 2008. Padahal, berkat dana talangan yang diberikan pemerintahan Presiden Barack Obama itu, ribuan tenaga kerja terselamatkan dan tiga pabrikan otomotif AS kembali bangkit.
”Saya akan memilih Santorum karena tampaknya Romney bersikap plin-plan dalam beberapa isu, dan saya tak yakin bisa memercayai dia,” tutur Thomas Stehlin (66), warga kota St Clair Shores, Michigan.
Beberapa pengamat politik memperkirakan pemilihan pendahuluan pekan depan, yang disusul Super Tuesday (pemilihan serentak di 10 negara bagian) pada 6 Maret, akan menentukan masa depan Romney.
”Minggu ini sangat penting. Jika dia sampai kalah di Michigan, dia akan dipandang tak bisa menang di kampung halamannya sendiri, tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan tempat ayahnya pernah menjadi gubernur,” tutur Peter Brown, asisten direktur Quinnipiac University Polling Institute.
Sebaliknya, Santorum, yang memosisikan diri sebagai konservatif sejati yang menentang keras aborsi dan pengendalian angka kelahiran, terus meraih dukungan setelah menang dalam tiga pemilihan pendahuluan berturut-turut, 7 Februari.
Namun, dia masih harus membuktikan kepiawaiannya dalam debat antarkandidat di Mesa, Arizona, Rabu malam waktu setempat atau Kamis pagi WIB.
”Bagi Santorum, ada banyak pengharapan. Kini setelah dia mendapat status bintang, dia harus tampil sangat bagus. Kesalahan apa pun yang ia perbuat akan disoroti karena statusnya itu. Dia harus menghadapi setiap serangan secara langsung,” ujar ahli strategi politik Partai Republik, Ron Bonjean.
Romney diduga akan menyerang rekam jejak Santorum saat duduk di Senat AS, 1995-2007, ketika dia ikut menyetujui berbagai anggaran belanja pemerintah yang dianggap pemborosan.
Santorum membela diri dengan mengatakan, Kongres AS sudah dipenuhi skandal sebelum ia menjadi senator. ”Kami datang ke sana, dan kami membongkar skandal demi skandal bipartisan, yang melibatkan politisi Partai Republik dan Demokrat yang melakukan berbagai hal untuk merusak kredibilitas (politisi) Washington DC,” ungkap Santorum, di Arizona, Rabu (22/2).
Naiknya popularitas Santorum menunjukkan, kelompok konservatif AS masih mencari alternatif capres di luar Romney. Charles Franklin, profesor hukum dan kebijakan publik di Marquette University Law School, mengatakan, para tokoh republiken saat ini masih mendukung Romney, tetapi mereka pun mulai gelisah.(AP/AFP/Reuters/DHF)