John Kei, Pentolan Gangster yang Ogah Dikawal

Kompas.com - 23/02/2012, 10:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosok John Refra Kei meramaikan peta kekuatan penguasa bawah tanah Jakarta sejak tahun 1990-an. Namanya kerap dikabarkan berseteru dengan kelompok gangster Ibu Kota lain seperti tokoh Basri Sangaji (Kelompok Maluku), Hercules (kelompok Timor), Thalib Makarim (kelompok Flores-Ende), bahkan dengan keponakannya sendiri, Umar Kei (kelompok Pulau Kei, Maluku, yang mayoritas Islam). Perseteruan John Kei paling sengit terjadi dengan Basri Sangaji. Sampai akhirnya Basri tewas ditembak kelompok John Kei di hotel Kebayoran Inn pada 2004 lalu, nama pria yang menjadi Ketua Angkatan Muda Kei (Amkei) itu seakan tak tertandingi.

Kendati demikian, persaingan wilayah kekuasaan di tingkat akar rumput di masing-masing kelompok tetap saja terus terjadi. Dendam antarkelompok memicu terjadinya bentrokan satu ke bentrokan lainnya seperti dalam kasus Blowfish (bentrok antara kelompok John Kei dengan kelompok Thalib Makarim) yang berlanjut ke tragedia Ampera Berdarah saat persidangan kasus Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sosok John Kei bagi para loyalisnya bagaikan madu yang selalu didambakan para pengikutnya. Tetapi, bagi pihak lawan sosok John Kei layaknya racun yang dinilai perlu disingkirkan. Hal ini pula yang terkadang menjadi kekhawatiran keluarga.

Djamal Koedoeboen, sepupu John Kei, mengaku pihak keluarga kerap khawatir dengan sifat cuek ala John Kei terhadap keamanannya sendiri. Pasalnya, John Kei sering tidak mau dikawal para loyalisnya. "Dia orangnya sangat low profile. Cueknya luar biasa. Nggak pernah dia itu minta bodyguard. Nggak ada, dia kemana-mana sendiri," ungkap Djamal saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (21/2/2012), di Rumah Sakit Polri Soekanto, Jakarta.

Dia mengatakan, sifat cuek John Kei bisa dilihat dari rumah dan caranya berkendara. Di rumahnya yang tidak terlalu mewah di kawasan Bekasi, kata Djamal, juga tidak ditempatkan pengawalan berlebih. "Selain itu, kalau nyetir nggak mau pakai sopir. Cuek banget orangnya. Malah kami yang keluarga deg-degan kalau dia nanti kenapa-kenapa," kata Djamal.

Hal itu diamini adik kandung John, Tito Refra. Menurut Tito, kakaknya itu sudah terbiasa berjuang sendiri. Sebagai perantau, kakaknya dinilai memiliki mental sangat kuat sehingga tidak takut siapa pun. "Kalau pun ada apa-apa, semua keputusan kan ada pada Tuhan. Kalau Tuhan tidak berkehendak mati, yah tidak akan mati," ujar Tito.

John pernah terlibat langsung dalam bentrokan di diskotik Zona. Di sana, dia diserang massa Basri Sangaji sampai membuat tiga jari tangannya tidak bisa digerakkan lagi sampai sekarang. Pada saat itu, John bisa saja tewas di tempat, tapi rupanya John masih bisa bertahan. Dikatakan Tito, hal yang sama juga sempat terjadi padanya saat bentrok di Jalan Ampera.

"Saya ditembak di bagian dada tepat ke arah jantung. Tapi saya masih bisa berdiri, saya sadar sampai dibius di rumah sakit. Ini semua keputusan ada pada Tuhan. Kalau orang ingin kami mati, tapi Tuhan berkata lain kan tidak bisa. Kalau soal ilmu, itu terserah orang lah," katanya sekaligus menepis anggapan bahwa dirinya dan John Kei menimba ilmu untuk kekebalan tubuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau