Katakan Tidak pada Korupsi Jadi Bahan Tertawaan

Kompas.com - 23/02/2012, 15:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Suasana rapat konsultasi antara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dengan para pimpinan institusi penegak hukum, kementerian, dan pihak terkait di DPR, Kamis (23/2/2012), tiba-tiba berubah menjadi riuh tawa di tengah rapat.

Saat itu, kalimat kampanye Pemilu 2009 milik Partai Demokrat, yakni "Katakan Tidak Pada Korupsi" terlontar dari mulut salah satu anggota Dewan.

Rapat konsultasi itu membahas program pencegahan tindak pidana korupsi di Kementerian dan DPR. Hadir dalam rapat Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Wakil Kepala Polri Komjen Nanan Soekarnak dan Kepala Bareskrim Polri Komjen Sutarman, pimpinan KPK yakni Busyro Muqoddas dan Zulkarnaen, Jaksa Agung Basrief Arief.

Hadir juga pimpinan fraksi-fraksi, pimpinan Komisi III, pimpinan Badan Anggaran, pimpinan Badan Kehormatan, dan pimpinan Komisi XI.

Riuh tawa terjadi ketika Aboe Bakar Al Habsy, perwakilan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memaparkan pandangan fraksi PKS mengenai pencegahan korupsi.

Awalnya, dia menjelaskan bahwa korupsi sudah terjadi sejak zaman kerajaan dan telah menghancurkan Majapahit, Mataram, dan Sriwijaya.

Setelah itu, Aboe Bakar menyinggung pin yang terpasang di baju dinas Nanan. Pin itu bertuliskan "Pelayanan Prima, Anti-KKN, Anti-Kekerasan". Menurut dia, sebaiknya DPR mengikuti langkah Polri itu.

"Kalau kita ikuti, bikin pin (bertuliskan) katakan tidak pada korupsi. Ini mantap. Kita buat semacam itu," kata Aboe Bakar dengan wajah serius.

Berbeda dengan Aboe Bakar, para pimpinan yang hadir langsung tertawa setelah mendengar pernyataan Aboe Bakar. Pimpinan DPR, tidak terkecuali Marzuki Alie dari Fraksi Demokrat, ikut tertawa.

Ada pula yang geleng-geleng kepala. Bahkan, ada pimpinan DPR yang memperagakan slogan itu dengan tangan, sama seperti dalam iklan.

Setelah menjelaskan mengenai praktik korupsi di kementerian hingga DPR, Aboe Bakar menutup dengan mengungkit kembali idenya itu.

"Perlu ada langkah sistemik untuk mencegah korupsi. Saya pikir kita tirulah Pak Wakapolri. Kita pakai pin di samping pin DPR "katakan tidak pada korupsi". Setuju Pak Ketua Demokrat (Marzuki)?" kata Aboe Bakar.

"Iya," jawab Marzuki sambil tersenyum.

"Saya sangat senang kalimat itu. Soal aplikasi urusan lain," pungkas anggota Komisi III itu disambut kembali riuh tawa para pimpinan.

Marzuki tak tinggal diam. Dia mengaku mendukung ide itu. "Di forum ini kita sepakat katakan tidak pada korupsi. Setuju kan? Saya ketok palu nih," tanya Marzuki.

"Setujuuuu," jawab para pimpinan disambut ketuk palu oleh Marzuki.

Sebelum memberi kesempatan pimpinan fraksi lain berbicara, Marzuki mengatakan, "Kalau ada korupsi, itu oknum. Sama kalau ada satu partai katakan tidak pada korupsi (Demokrat), kalau korupsi, oknum. Bukan partainya."

Para pimpinan lain pun kembali tertawa mendengar pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu.

Seperti diketahui, kampanye "Katakan Tidak Pada Korupsi" kembali diangkat ke publik setelah banyaknya kader Partai Demokrat yang terseret kasus korupsi.

Terakhir, M Nazaruddin dan Angelina Sondakh terseret kasus korupsi proyek wisma atlet SEA Games. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan beberapa petinggi Demokrat lain juga disebut-sebut terlibat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau