JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menegaskan, sektor perbankan di Indonesia masih tidak rasional dan tidak efisien. Hal ini antara lain tecermin dari besaran suku bunga deposito yang tidak berbeda jauh untuk berbagai jangka waktu simpanan deposito tersebut.
Berbicara dalam seminar ”Indonesian Economic Policy in a Challenging Global Economy” yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta, Kamis (23/2/2012), Darmin mencontohkan kondisi tidak rasional itu, yakni suku bunga deposito 1 bulan sebesar 6 persen, sedangkan suku bunga deposito 1 tahun 6,25 persen.
”Tidak ada bedanya suku bunga untuk jangka pendek dan jangka panjang. Ini menunjukkan ada yang salah,” ujarnya.
Di Malaysia, Singapura, dan Thailand, suku bunga deposito berjangka waktu 1 bulan hanya 3,5 persen. Namun, untuk jangka waktu 3 tahun bisa 6,5-7 persen.
Darmin berharap pasar modal yang semakin efisien dapat menjadi penekan sekaligus pesaing sektor perbankan. ”Kalau pasar modal bisa melahirkan instrumen yang lebih murah, bisa menekan perbankan lebih jauh,” kata Darmin.
Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution menambahkan, sebenarnya kondisi kesehatan industri perbankan di Indonesia semakin baik. Dengan demikian, semakin mudah memenuhi persyaratan Basel III yang menekankan pentingnya likuiditas perbankan.
Pasar keuangan
Darmin juga menyoroti masih dangkalnya pasar keuangan di Indonesia. Dengan demikian, saat arus deras dana asing masuk, Indonesia tidak mampu menyerap semuanya. Karena itu, pasar keuangan perlu pendalam. Salah satu caranya adalah dengan menerbitkan instrumen untuk menyerap dana-dana asing yang masuk.
Bank Indonesia memperdalam pasar keuangan dengan cara inklusi keuangan. Dengan terjangkaunya layanan keuangan oleh masyarakat, semakin banyak fasilitas keuangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Saat ini, rasio kredit dibandingkan dengan pendapatan produk domestik bruto Indonesia sekitar 26 persen.
Pengamat pasar modal Yanuar Rizky menyarankan agar instrumen pasar keuangan harus diarahkan ke sekuritisasi sektor riil. Pasalnya, pada dasarnya pasar keuangan adalah intermediasi masyarakat pemilik dana dengan sektor produksi. ”Di sisi lain, kampanye budaya melakukan investasi juga harus masif dilakukan di masyarakat,” kata Yanuar.
Surat Utang Negara (SUN) yang fokus ke sektor riil produktif, misalnya, dapat dibuat pemerintah. Dengan kondisi suku bunga acuan yang rendah, sektor riil yang dialiri dana ini bisa memberikan imbal hasil dari produktivitasnya yang lebih besar.
Dalam enam bulan terakhir, kurva imbal hasil surat berharga negara terus bergerak turun secara paralel. Imbal hasil SUN berjangka lima tahun turun dari 6,3 persen pada September 2011 menjadi 4,5 persen pada 21 Februari 2012 .
Adapun imbal hasil SUN berjangka 10 tahun turun dari 7 persen menjadi 5,2 persen dan SUN 20 tahun turun dari 7,8 persen menjadi 6,1 persen. Hal itu menunjukkan biaya untuk bisnis dalam tataran mikro dan biaya perekonomian di level makro cenderung turun sehingga perekonomian dapat tumbuh lebih tinggi. (idr)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang