Penelitian

"Eco Power Booster", Solusi Hemat BBM ala Unas!

Kompas.com - 24/02/2012, 20:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat tengah dilanda kekhawatiran terkait naiknya bahan bakar minyak (BBM) karena tingginya harga bahan bakar dapat memicu kenaikan harga bahan pokok. Kian menipisnya sumber daya alam tak terbarukan ini juga membuat pemerintah mulai membatasi penggunaan BBM, khususnya premium, dengan melakukan sosialisasi penggunaan pertamax bagi masyarakat mampu.

"Sayangnya, hal itu tidak membuat masyarakat beralih mengunakan bahan bakar premium sehingga subsidi BBM masih terus membengkak," ujar Dekan Fakultas Teknik dan Sains (FTS) Universitas Nasional, Ajat Sudrajat, saat menerima kunjungan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo pada sosialisasi penghemat BBM "Eco Power Booster" di kampus Universitas Nasional, Jakarta, Jumat (24/2/2012).

Untuk itu, lanjut dia, berbagai pihak kini terus mengembangkan energi terbarukan, antara lain melalui biomasa, biogas, dan hydrocell. Salah satu upaya itu juga dilakukan oleh Program Diploma Tiga Otomotif FTS Unas yang mengembangkan penggunaan energi terbarukan dengan memanfaatkan energi air.

"Solusi penghematan bahan bakar untuk kendaraan bermotor dengan memanfaatkan air untuk membangkitkan energi listrik dengan HHO menggunakan dry cell. Penghemat bahan bakar ini yang kami namakan dengan Eco Power Booster," ujarnya.

Ia memaparkan, Eco diambil sesuai artinya, yaitu ekonomis dan efisien. Sementara Power Booster berarti dapat memacu kecepatan kendaraan. Penghemat bahan bakar ini bisa mengurangi konsumsi bahan bakar dengan penghematan antara 20 % - 70 %.

Kepala Laboratorium FTS Unas, Eddy Arifin, menambahkan, jika biasanya untuk satu liter bensin bisa mencapai 10 kilometer, dengan alat ini kendaraan bisa menempuh hingga 20 kilometer. Selain itu, Eco Power Booster juga dapat meminimalkan emisi gas buang (gas CO dan CO2) yang berbahaya bagi lingkungan hingga 50 persen.

"Sehingga baik untuk lingkungan. Performa kendaraan bermotor juga akan meningkat dan mampu menurunkan suhu kerja mesin dan menurunkan panas yang terpapar ke udara," kata Eddy.

Ia mengakui, pada temuan ini memang tidak sepenuhnya bahan bakar yang digunakan berasal dari air. Namun, penggunaan air dalam Eco Power Booster membantu mengurangi penggunaan BBM. Menurutnya, prinsip mengembangkan air sebagai energi adalah dengan mengubahnya menjadi senyawa-senyawa penyusunnya, yaitu hidrogen (H) dan oksigen (O).

"Elektrolisis air menjadi prinsip dasar untuk mengubah air menjadi senyawa-senyawa penyusunnya. Gas H2 hasil elektrolisis tersebut digunakan sebagai energi bahan bakar yang memiliki tingkat pembakaran lebih tinggi, dibandingkan dengan energi lainnya," tutur Eddy.

Ia mengatakan, teknologi Eco Power Booster juga lebih unggul dari teknologi sejenis lainnya karena tidak panas meski dinyalakan selama 24 jam. Meskipun belum diproduksi secara masal, penghemat bahan bakar ini sudah cukup dikenal di kalangan sivitas akademika Unas dan lingkungan sekitarnya. Terbukti, kata dia, hingga kini sudah ada sekitar 40 kendaraan roda empat dan 20 kendaraan roda dua yang baru menggunakan teknologi ini.

"Kami belum produksi secara massal, masih untuk internal saja. Tapi, mereka yang sudah menggunakan mengaku puas, karena selain irit BBM, tarikan mesin jadi lebih enteng. Dari situlah biasanya mereka menceritakan ke teman-temannya," ujar Eddy.

Terkait hak paten teknologi Eco Power Booster, Ajat mengatakan sedang dalam proses. Dia berharap, bulan ini proses hak paten sudah berjalan. Pihak Unas juga terus melakukan penyempurnaan produk agar kualitasnya dapat terus terjamin sembari mengembangkan teknologi untuk kepentingan lain di bidang rumah tangga dan juga perbengkelan.

"Agar bisa menjadi kontribusi yang berharga, tidak hanya dalam menjawab krisis BBM, namun juga menjadi solusi energi tak terbarukan di masa depan," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau