Perampokan toko emas

Pelaku Belum Tertangkap

Kompas.com - 25/02/2012, 14:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga sepeda motor masih berada di kantor Kepolisian Sektor Ciputat, Sabtu (25/2/2012) ini. Tiga kendaraan roda dua itu terkait dengan perampokan empat toko emas di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (24/2/2012) siang oleh delapan lelaki bersenjata pistol dan martil.

Namun dari sepeda motor pelaku yang disita itu, belum bisa digali bukti-bukti yang mengarah pada identitas pelaku. "Masih diselidiki," kata Kepala Kepolisian Sektor Ciputat, Komisaris Alip, Sabtu siang di kantornya.

Dua dari tiga motor yang disita, diyakini ditinggalkan oleh perampok karena mogok.

Namun komplotan perampok belum tertangkap. Sepeda motor yang disita ialah Yamaha Jupiter MX hitam B 3327 KBQ jupiter MX hitam dan Yamaha Vega ZR hitam B 3474 SAN yang ditinggalkan pelaku, serta Honda Beat merah B 3371 KAR yang didapat dari pengembangan kasus diduga juga terkait perampokan.

"Semua pelat nomor palsu," kata Alip, yang menolak berkomentar lebih jauh.

Perampokan terjadi saat Pasar Ciputat agak, lengang karena banyak pedagang atau penjaga melaksanakan ibadah salat Jumat, antara pukul 12.00 WIB dan pukul 12.30 WIB.

Saat didatangi pada Sabtu siang, empat toko emas yang dirampok masih tutup dan sekelilingnya diberi haris kuning polisi.

Berdasarkan keterangan sejumlah pedagang, kejadian bermula dari kedatangan empat sepeda motor yang dinaiki delapan lelaki yang berjaket dan berhelm, sehingga ciri wajah pelaku sulit diidentifikasi.

Mereka memarir sepeda motor di Jalan Ariaputra di gedung Pasar Ciputat. Tujuh orang di antaranya lalu masuk ke area toko emas, dari dua tangga pintu yang berada di dua sisi blok AK.

Tak satu pun yang berani bersuara, melihat kehadiran mereka yang membawa pistol itu, tak terkecuali Santoso, pemilik Toko Mas Subur Jaya, serta Djan, pemilik Toko Mas Sinar Abadi.

Pemilik hanya terganga saat ketujuh orang bersenjata itu memecahkan etalase yang memajang emas-emas, dan menggasak dagangan mereka.

Komplotan itu beraksi dengan amat tenang seakan-akan hanya mereka sendiri yang sedang di lokasi itu. Padahal, puluhan pasang mata yang ketakutan sedang memperhatikan aksi mereka biarpun diam. Apalagi, beberapa anggota komplotan sempat mengumbar tembakan.

Komplotan kemudian kabur, tetapi meninggalkan dua sepeda motor karena mogok dan malah menyandera angkutan kota.

Komplotan lalu pergi dan seakan menghilang saat melintasi Gang Haji Betong. Dari situlah beredar kasak-kusuk komplotan tinggal di kawasan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau