Kriminalitas

Perampokan Bisa Terkait Terorisme

Kompas.com - 26/02/2012, 01:42 WIB

Jakarta, Kompas - Perampokan empat toko emas yang dilakukan delapan orang bersenjata api dan martil di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (24/2) sekitar pukul 12.00, ada kemungkinan dilakukan oleh jaringan terorisme. Namun, indikasi keterlibatan pelaku dengan jaringan terorisme tersebut masih perlu didalami. Apalagi, delapan pelaku yang diklaim sudah diidentifikasi atau diketahui identitasnya itu belum tertangkap.

”Baru bisa dipastikan kalau pelaku sudah tertangkap,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Besar Toni Hermanto di Jakarta, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa saat ini Polda Metro Jaya masih berupaya menangkap pelaku perampokan tersebut.

Itu sebabnya, menurut Toni Hermanto, anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror ditugaskan untuk memburu pelaku. Sejauh ini, petugas menangkap dan memeriksa dua orang. Namun, keduanya belum dipastikan sebagai pelaku atau bukan.

”Untuk dua orang yang kami amankan mungkin ada hubungan, tetapi bukan berarti sebagai tersangka karena harus ada pendalaman lagi,” kata Toni.

Toni memaparkan, Densus 88 Antiteror melibatkan diri dalam perburuan pelaku perampokan karena melihat peristiwa tersebut dari sisi lain. Kasus-kasus teror bom yang pernah terjadi sebelumnya ternyata didahului dengan perampokan toko emas.

Ia menambahkan, ”Mereka bahu-membahu dengan kami agar pelaku bisa diburu dan ditangkap.”

Dalam perampokan itu, pelaku sempat beberapa kali melepaskan tembakan. Irwansyah (37), saksi mata, mengatakan, saat kejadian, ia coba berteriak ada rampok, tetapi pelaku malah melepaskan tembakan ke udara. Senjata pelaku mirip revolver dan FN.

Tembakan tersebut membuat pedagang dan orang yang sedang berada di pasar menjadi gentar untuk meringkus pelaku. Menurut Cecep Supriatna, yang juga saksi mata, saat ia coba menguntit, pelaku menembakkan pistol lagi sehingga ia memilih mundur demi keselamatan diri.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto mengatakan, perampokan terus didalami dan diselidiki.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jaksel Ajun Komisaris Besar Budi Irawan menambahkan, pihaknya telah menemukan empat sepeda motor yang dipakai pelaku perampokan. ”Kami sita bersama benda-benda lain sebagai barang bukti,” katanya.

Barang bukti yang dimaksud ialah Yamaha Jupiter MX hitam B 3327 KBQ, Yamaha Vega ZR hitam B 3474 SAN, Yamaha Mio hitam B 3327 KEB, dan Honda Beat merah B 3371 KAR.

Kepala Kepolisian Sektor Ciputat Komisaris Alip mengatakan, Yamaha Mio hitam itu disita dari seorang tukang ojek di Bekasi, Jawa Barat, tetapi belum diungkap hubungan antara pemilik sepeda motor dan pelaku perampokan. Honda Beat merah disita dari suatu tempat hasil penyelidikan sementara.

Selain itu, petugas juga mengumpulkan dua selongsong peluru kaliber 83 milimeter dan satu selongsong peluru kaliber 45 milimeter, dua proyektil peluru, besi semacam laras senjata jenis FN atau Colt, serta martil bergagang kayu yang dipakai untuk memecahkan etalase toko emas.

Budi mengatakan, temuan selongsong, proyektil, dan pecahan laras pistol itu belum cukup untuk membuktikan bahwa senjata pelaku perampokan merupakan pistol organik atau pistol rakitan. ”Biar tim forensik yang memastikan,” katanya.

Sebelas saksi

Budi menjelaskan, petugas telah memeriksa 11 saksi yang terdiri dari pemilik toko emas dan saksi mata. Kerugian belum dipastikan, tetapi ditaksir mencapai miliaran rupiah. Korban pun belum melapor secara resmi hasil penghitungan jumlah kerugian mereka.

Setelah perampokan, Pasar Ciputat di Jalan Aria Putra masih buka dan ramai seperti pantauan pada Sabtu siang. Namun, empat toko emas yang sehari sebelumnya dirampok masih tutup dan diberi garis polisi. Tidak tampak penjagaan dari aparat berwenang di sekitar lokasi.

Sejumlah toko emas yang lokasinya berdekatan dengan lokasi perampokan juga tampak buka seperti biasa. Namun, pemilik toko emas yang ada di sekitar kejadian tetap merasa waswas. Mereka juga mengaku khawatir jadi korban perampokan. Pedagang sayur, buah, dan pakaian di sekitar lokasi perampokan juga tetap berjualan seperti biasa meski diliputi perasaan tidak tenang.

(BRO/RTS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau