Krisis suriah

Presiden Tolak Dunia, Oposisi Boikot Plebisit

Kompas.com - 27/02/2012, 04:36 WIB

Kairo, Kompas - Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad terus memperlihatkan sikap keras. Dia menolak seruan Barat agar menghentikan serangan dan juga tidak mau menyerahkan kekuasaan. Di sisi lain, kubu oposisi juga makin berani menentang dan tidak mau ikut referendum atau plebisit.

Otoritas Suriah, Minggu (26/2), menggelar referendum atas konstitusi baru. Ini diboikot kubu oposisi dan ditolak masyarakat internasional. Akan tetapi, dicanangkan sebanyak 14 juta rakyat Suriah memberikan suara dalam referendum itu.

Penyelenggaraan referendum itu berlangsung di tengah serangan pasukan Pemerintah Suriah di berbagai kota oposisi. Komite koordinasi revolusi tingkat lokal (oposisi) menyerukan rakyat memboikot referendum dan melakukan mogok kerja di seluruh wilayah Suriah saat referendum. Komite tersebut menyebut, otoritas Suriah ingin menutupi tindakan kriminalnya melalui referendum.

Referendum ini bertujuan menanyai pendapat rakyat soal kelangsungan pemerintahan Assad.

Otoritas Suriah juga menyinggung konferensi para sahabat Suriah yang sudah berlangsung di Tunisia, Jumat (24/2). Suriah menuduh ini adalah konspirasi terhadap Suriah. Menteri Penerangan Suriah Adnan Mahmud mengatakan, konferensi itu merupakan konferensi para sahabat Washington dan musuh rakyat Suriah. Ia mengecam negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi dan Qatar, karena terlibat.

Mahmud mengatakan, mereka yang memiliki rencana tertentu terhadap Suriah, seperti AS, Arab Saudi, Qatar, dan Turki, kini dihinggapi rasa kecewa dan kemudian menggelar konferensi untuk menutupi kegagalan di DK PBB. Rusia dan China menolak tekanan Barat pada Suriah.

Menlu Turki Ahmet Davutoglu menawarkan Istanbul sebagai tuan rumah konferensi para sahabat Suriah yang kedua kelak. Dijadwalkan, konferensi para sahabat Suriah kedua digelar bulan depan. Menurut Davutoglu, jika bisa melaksanakan sebagian dari rekomendasi konferensi para sahabat Suriah di Tunisia, hal itu merupakan permulaan baik.

Konstitusi baru

Rancangan konstitusi baru, yang harus disetujui rakyat melalui referendum, akan menggantikan konstitusi tahun 1973 yang berlaku di Suriah selama ini. Rancangan konstitusi baru itu menegaskan untuk mengakhiri hegemoni partai sosialis Baath di Suriah, yang sudah berkuasa selama 50 tahun terakhir.

Rancangan itu juga meminta Suriah menerapkan sistem multipartai. Namun, dalam rancangan konstitusi itu, presiden mendatang tetap memiliki otoritas luas dengan wewenang menunjuk perdana menteri dan anggota kabinet. Dalam rancangan konstitusi itu ditegaskan, presiden hanya bisa dipilih dua periode dan setiap periode berlangsung selama tujuh tahun.

Di lapangan, para aktivis Suriah seperti dikutip televisi satelit Aljazeera mengungkapkan, pasukan pemerintah hari Minggu kembali menggempur distrik Bab Amro di kota Homs dan distrik Halfaya di kota Hama. Pada hari Sabtu lalu, jumlah korban tewas akibat gempuran pasukan pemerintah di berbagai kota mencapai 109 korban.

Televisi Aljazeera merilis gambar aksi unjuk rasa di distrik Bayada di kota Homs pada Sabtu malam lalu untuk menunjukkan solidaritas terhadap penduduk distrik Bab Amro. Mereka meneriakkan yel-yel agar Presiden Assad dan kroninya mundur.

Adapun televisi Pemerintah Suriah merilis gambar tim Palang Merah Suriah sedang mengevakuasi para korban luka-luka dari distrik Bab Amro. Televisi pemerintah itu mengatakan, tim Palang Merah Suriah mengangkut para korban luka-luka itu dari distrik Bab Amro ke berbagai rumah sakit di kota Homs.

(mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau