Rumah Osama Dihancurkan

Kompas.com - 27/02/2012, 07:10 WIB

ABBOTTABAD, KOMPAS.com — Tanpa alasan jelas dan tanpa pemberitahuan resmi, aparat keamanan Pakistan menghancurkan kompleks bangunan berlantai tiga di kota Abbottabad. Itu adalah tempat persembunyian almarhum Osama bin Laden, pemimpin jaringan teroris Al Qaeda.

Di bangunan itu Osama, juga salah seorang putranya, dan beberapa pengikutnya tewas diserang pasukan khusus militer AS, Navy SEALs, pada Mei 2011. Belakangan diketahui Osama beserta ketiga istri, belasan anak, serta pengikut setia bersembunyi selama beberapa tahun di bangunan mewah di kawasan wisata, yang tak jauh dari akademi militer Pakistan.

Proses penghancuran kompleks bangunan itu mulai dilakukan Sabtu (25/2/2012) dengan pengamanan ketat aparat keamanan setempat. Para warga dan jurnalis dilarang mendekat ke lokasi walau untuk sekadar mengambil gambar dari kejauhan.

”Pihak yang mengerjakan adalah pasukan keamanan. Mereka sudah bekerja semalaman dan terus berlanjut sampai sekarang,” ujar salah seorang petugas polisi di lokasi.

Sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi perumahan itu. Alat-alat berat itu dipakai untuk menjebol dan merobohkan bangunan beton, yang sangat tertutup ketika Bin Laden masih hidup.

Sekitar 500 personel polisi dikerahkan dan tampak berjaga-jaga. Sejak kematian Osama, kompleks bangunan dikuasai dan berada di bawah pengawasan pihak keamanan Pakistan.

Menurut pejabat Pakistan, beberapa saat sebelum operasi penghancuran bangunan, aparat keamanan menyerahterimakannya kepada pejabat sipil setempat.

Sebetulnya bangunan itu sudah direncanakan akan dihancurkan sejak lama, atau tak lama setelah operasi penyerangan Navy SEALs.

Jangan jadi pemujaan

Akan tetapi, rencana itu tertunda setelah Pemerintah Pakistan justru mengeluarkan perintah pengadilan untuk menyelidiki operasi yang dilakukan AS. Pemerintah Pakistan marah karena AS sama sekali tidak berkoordinasi dengan mereka.

”Sekarang proses penyelidikan oleh komisi khusus, yang dibentuk untuk itu, sudah selesai bekerja. Komisi tidak lagi membutuhkan bangunan tersebut,” ujar seorang pejabat Pakistan.

Pemerintah Pakistan disebut-sebut sengaja menghancurkan bangunan karena tidak menginginkan kompleks itu menjadi semacam tempat pemujaan para pengikut Bin Laden.

Namun, pihak Pakistan juga tidak tahu akan dijadikan apa lokasi itu setelah bangunan dirobohkan. Beberapa pihak mengusulkan agar di lokasi itu didirikan bangunan sekolah.

Ada pula yang cenderung berpikiran untuk membiarkan saja areal lahan itu. Seperti diwartakan beberapa waktu lalu, pascakematian Osama, lokasi dan bangunan itu mendadak terkenal dan menarik para wisatawan untuk datang. ”Mungkin masih lama lagi hingga pemerintah memutuskan status bekas tempat tinggal Osama itu,” ujar salah seorang pejabat.

Selain terhadap bangunan, kekhawatiran sama juga sempat dihadapi AS dengan jenazah Osama. Pemerintah AS menguburkan jenazah Osama di laut agar makamnya tidak dijadikan sebagai simbol atau tempat pemujaan oleh para pengikutnya.

Selain itu, penguburan jasad Osama di laut juga dilakukan, salah satunya, lantaran tak satu pun negara, termasuk tanah kelahirannya di Arab Saudi, yang bersedia menerima jenazah almarhum. (AFP/BBC/DWA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau