Pendidikan

Yang Kuliah di Luar Negeri, Jangan Lupa Kembali ke Tanah Air!

Kompas.com - 27/02/2012, 10:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengharapkan mahasiswa penerima beasiswa ke luar negeri dapat kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya kepada bangsa dan negara. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim pada acara Pameran dan Seminar Pendidikan Jepang di Jakarta, Minggu (26/2/2012).

"Banyak mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, tidak kembali ke Tanah Air untuk mengabdi usai menyelesaikan kuliahnya," kata Musliar.

Musliar mencontohkan, ada mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia dengan biaya dari pemerintah, tetapi tak kembali setelah menyelesaikan studinya. "Mahasiswa tersebut malah bekerja di negara tersebut dan mengabdikan dirinya di sana," katanya.

Ia menilai, kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah, seyogyanya kembali ke Indonesia.

Sementara itu, terkait pameran Japan Education Fair in Indonesia (JEFI) yang digelar Pandan College Indonesia, Musliar memberikan apresiasi karena dinilai bisa membuka wawasan masyarakat tentang pendidikan di Jepang. Komisaris Pandan College, Richard Susilo memperkirakan, dari total 90 ribu mahasiswa asing yang belajar di Jepang, hanya dua ribu orang yang berasal dari Indonesia.
     

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau