AMBON, KOMPAS.com — Ketua Komisi D DPRD Maluku Suhfi Majid menyesalkan lambannya respons Pemerintah Kota Tual dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dalam menanggulangi penyakit demam berdarah yang mewabah di dua kota/kabupaten di Kepulauan Kei, Maluku, itu.
”Upaya preventif dan promotif besar-besaran baru dilakukan setelah ada lima warga yang meninggal pekan lalu. Seharusnya hal itu sudah dilakukan sejak kasus pertama muncul pada Desember 2011 sehingga pertambahan penderita demam berdarah apalagi sampai meninggal bisa dicegah,” kata Suhfi Majid saat dihubungi Kompas sedang berada di Tual, Senin (27/2/2012).
Suhfi bersama sejumlah anggota Komisi D DPRD Maluku berangkat ke Tual dan Maluku Tenggara dari Ambon, ibu kota Maluku, Senin pagi, untuk melihat penanggulangan penyakit demam berdarah oleh pemerintah setempat.
Namun, menurut Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tenggara MK Notanubun, upaya promotif dan preventif telah dilakukan sejak penyakit itu muncul pada Desember 2011. Hal serupa kembali dilakukan pada Januari dan Februari 2012 saat jumlah penderita bertambah.
Namun, upaya yang dilakukan tidak berhasil sehingga penderita terus bermunculan dan lima di antaranya meninggal karena saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah parah.
”Kesehatan lingkungan yang tidak terjaga dengan baik membuat penderita terus bertambah,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang