Merauke, kompas
Ramdani Sirait, juru bicara PT Freeport Indonesia yang dihubungi, Senin (27/2), mengungkapkan, penghentian operasi perusahaan telah dilakukan sejak hari Kamis minggu lalu.
Menurut Ramdani, sejumlah karyawan yang kembali ke wilayah kerja terlibat dalam tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap para supervisor dan karyawan-karyawan lain yang
”Kami bekerja sama dengan pimpinan serikat pekerja dan pejabat pemerintah untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kembalinya karyawan ke tempat kerja,” ujar Sirait. Belum bisa dipastikan kapan operasional pertambangan Freepot akan aktif kembali.
Ketua Bidang Organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Freeport Indonesia Virgo Salossa membenarkan terjadinya perselisihan di antara karyawan tambang. Perselisihan itu diduga dipicu kekecewaan sejumlah karyawan yang sebelumnya mengikuti mogok kerja terhadap karyawan lain yang tidak mengikuti aksi mogok kerja.
Menurut Virgo, sejumlah karyawan yang mengikuti mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah kecewa karena selama mengikuti mogok, mereka dianggap absen sehingga tidak menerima gaji. Sementara itu, karyawan lain yang tidak ikut mogok tetap mendapat gaji penuh dan juga turut menikmati kenaikan upah kerja, yang diperjuangkan oleh karyawan peserta mogok kerja.
Akibatnya muncul ketidakpuasan. Sejumlah karyawan yang mengikuti mogok kerja setelah aktif bekerja kembali, enggan diperintah oleh supervisor yang tidak mengikuti mogok kerja.
Aksi mogok kerja karyawan PT Freeport Indonesia terkait tuntutan tersebut berlangsung selama lebih kurang tiga bulan mulai 15 September 2011. Karyawan yang mogok sekitar 7.200 dari total 23.000 karyawan perusahaan itu. Setelah dicapai kesepakatan kenaikan upah, 24 Januari 2012, karyawan kembali aktif bekerja.