Dualisme politik australia

Rakyat Sukai Rudd, tetapi Partai Memilih Gillard

Kompas.com - 28/02/2012, 07:41 WIB

Pada akhir pekan lalu mantan Menteri Luar Negeri dan mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd disambut bak selebritas ketika dia berjalan-jalan di Brisbane. Rudd seperti sedang melakukan kampanye pemilihan umum menjelang pemilihan untuk menjadi Ketua Partai Buruh Australia, sekaligus akan menjadi PM. Dalam politik Australia, ketua partai otomatis menjadi PM.

Tiga jajak pendapat nasional menunjukkan Rudd adalah calon pilihan rakyat kebanyakan dibandingkan PM saat ini, Julia Gillard. Dukungan terhadap Rudd lebih dari 55 persen dan Gilllard hanya mendapatkan suara 20-30 persen.

Namun, konsensus di kalangan media sudah mengatakan Gillard akan menang. Ini karena dalam pemungutan suara Senin pagi tersebut hanya 103 anggota parlemen federal Partai Buruh yang memberikan suara. Kelompok ini dinamakan kaukus. Dukungan bagi Gillard diperkirakan sudah lebih dari 60 suara.

Rudd membawa Partai Buruh merebut kemenangan pemilu tahun 2007. Ia kemudian ”dikudeta” oleh Gillard pada tahun 2010. Rudd populer di kalangan rakyat, tetapi tidak mendapatkan dukungan dari rekan-rekan di partainya. Mengapa demikian? ”Rudd hanya disukai oleh orang-orang yang tidak mengenalnya,” demikian pendapat seorang kolumnis Australia.

Beberapa menteri yang pernah bertugas di bawah Rudd dan Gillard memberikan gambaran perbedaan kerja kedua tokoh. ”Dari pengalaman bekerja di bawah keduanya, saya memutuskan untuk mendukung Gillard,” kata Menteri Keuangan Penny Wong.

”Saya ragu apakah saya akan diminta menjabat lagi, tetapi kalau diminta, saya akan menolak,” kata Jaksa Agung Nixola Roxon, seandainya Rudd menang. Wong, Roxon, dan sejumlah menteri senior lain, termasuk Menteri Keuangan Wayne Swann, terang-terangan menyatakan mendukung Gillard.

Wartawan senior Australia, Laurie Oakes, membeberkan pengamatan seseorang yang pernah bekerja di pemerintahan semasa Rudd berkuasa dari tahun 2007 sampai 2010. ”Pemerintahan Rudd tidak pernah dan tidak akan menjadi pemerintahan yang berfungsi dengan baik. Masalahnya adalah pada pemimpin utama,” demikian kesimpulan pejabat tersebut.

”Rudd bukan manajer yang baik dan sering berperilaku kasar terhadap bawahan yang tidak memiliki pandangan yang sama dengan dia,” demikian inti kritik terhadap gaya kepemimpinan Rudd. Tampaknya kebanyakan para anggota parlemen Partai Buruh enggan kembali ke gaya pemerintahan seperti itu.

Tak seiring

Rudd sudah mengakui bahwa dia memiliki berbagai kelemahan dan menyatakan sudah berubah. Karena merasa argumentasinya belum bisa diterima oleh kalangan partai, Rudd meminta kepada rakyat kebanyakan untuk menelepon/menghubungi anggota parlemen Partai Buruh guna mendukung Rudd.

Dari jajak pendapat nasional, taktik ini tampaknya merupakan satu-satunya jalan bagi Rudd guna mengubah pandangan rekan-rekan separtai. Usaha yang mungkin saja akan berhasil, tetapi sudah diantisipasi oleh Gillard dengan memutuskan pemilihan ketua partai dilakukan hari Senin, lima hari setelah Rudd mengundurkan diri sebagai Menteri Luar Negeri di Washington.

Dari sisi kebijakan, tidak ada perbedaan mendasar antara Gillard dan Rudd. Namun, mengapa Gillard yang menjadi PM Australia selama 18 bulan terakhir tidak populer di mata rakyat?

Beberapa kebijakannya yang tidak populer, seperti pajak karbon dan penyelesaian masalah pencari suaka, menjadi penyebab. Gillard terkesan ”dingin” dan berjarak dengan rakyat.

Alasan lain mengapa Rudd lebih populer adalah karena banyak warga Australia ”khawatir” dengan pemimpin oposisi dari Partai Liberal, Tony Abbot. Abbot dianggap memiliki kebijakan yang terlalu konservatif. Itulah sebabnya Rudd dalam pidato pencalonan mengatakan dialah yang paling berpeluang mengalahkan Abbot di pemilu 2013.

Jajak pendapat tampaknya menyetujui hal tersebut karena popularitas Rudd melebihi Gillard dan Tony Abbot. Persoalan terbesar baginya adalah para anggota Partai Buruh Australia tidak sependapat dengan rakyat. (L Sastra Wijaya Koresponden Kompas di Adelaide, Australia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau