Harga Beras Thailand Makin Tak Kompetitif

Kompas.com - 28/02/2012, 12:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Di pasar beras dunia, Thailand akan segera kehilangan gelarnya sebagai negara pengekspor beras terbesar di dunia. Hal ini terjadi akibat Pemerintah Thailand lebih memilih menaikkan harga beras di tengah sengitnya persaingan pasar global.  

Sampai saat ini, Vietnam, India, dan Myanmar menjadi negara-negara pesaing utama Thailand untuk komoditas beras. Vietnam merupakan negara yang paling berpeluang karena punya niat yang sangat kuat untuk menjadi pengekspor terbesar.

"Vietnam kemungkinan dapat mengambil alih posisi tersebut dalam kurun lima tahun," kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodoti Syahrul R Sempurnajaya, Selasa (28/2/2012)

Berdasarkan prakiraan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Thailand dan Vietnam diharapkan mampu mengekspor 6,5 ton beras di tahun 2012.

Menurut laporan Bappebti harga beras jenis rough rice pada perdagangan pekan lalu melemah karena aksi spekulasi jual oleh pelaku pasar. Harga beras jenis rough rice turun 0,1 persen. USDA melaporkan dalam pekan yang berakhir 16 Februari, eksportir AS telah menjual 28.000 ton beras, turun 72 persen dari minggu sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau