Obat Tidur Picu Kematian dan Kanker?

Kompas.com - 28/02/2012, 14:44 WIB

KOMPAS.com - Jika Anda mengalami susah tidur dan terpaksa harus mengonsumsi pil (obat) tidur untuk bisa memejamkan mata, sebaiknya berhati-hati. Penelitian terbaru mengindikasikan, penggunaan obat tidur secara rutin dapat menimbulkan risiko kematian serta memicu timbulnya beberapa jenis kanker.

Sebuah studi baru di Amerika Serikat menunjukkan, mereka yang menenggak pil tidur berisiko empat kali lebih besar meninggal ketimbang orang yang tidak meminumnya. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan pil tidur dengan peningkatan risiko untuk mengidap kanker tertentu. Temuan ini dipublikasikan secara online pada 27 Februari 2012 dalam jurnal BMJ open.

Obat tidur yang berpotensi memicu risiko tersebut di antaranya  benzodiazepin seperti temazepam; non-benzodiazepin seperti Ambien (zolpidem), Lunesta (eszopiclone) dan Sonata (zaleplon); barbiturat, dan antihistamin sedatif.

Tapi peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara alat bantu tidur dan risiko kematian, tidak menjelaskan hubungan sebab akibat. Para ahli mendesak agar setiap orang berhati-hati dalam menyimpulkan temuan ini.

"Penggunaan obat tidur telah dihubungkan dengan kematian dan peningkatan munculnya kanker baru," kata Dr Daniel Kripke, dari Scripps Clinic Viterbi Family Sleep Center, di La Jolla, California.

Dalam temuannya, Kripke dan timnya melacak data studi yang melibatkan  lebih dari 10.500 orang berusia rata-rata 54 tahun. Peserta studi memiliki beragam kondisi kesehatan dan diberi resep obat tidur selama kira-kira 2,5 tahun pada 2002-2007.  Kemudian peneliti membandingkan risiko terkait kematian dan kanker pada mereka yang mengonsumsi obat tidur.

Mereka yang mendapat resep hingga 18 dosis per tahun  berisiko 3,6 kali lebih besar meninggal dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak diberi resep. Sedangkan peserta yang diresepkan antara 18-132 dosis berisiko empat kali lebih mungkin meninggal. Sementara, peserta yang mengonsumsi lebih dari 132 dosis per tahun memiliki  risiko kematian lima kali lebih besar dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan resep. Menurut peneliti, temuan ini berlaku tanpa memandang usia, tapi risiko yang tertinggi ada di antara orang-orang yang berusia 18-55 tahun.

Secara khusus peneliti mencatat, ada 265 kematian di antara 4.336 orang yang menggunakan Ambien (obat tidur) ketimbang 295 kematian di antara 23.671 orang yang tidak meminum obat penenang atau obat tidur.

Mereka yang menggunakan dosis tertinggi juga berisiko lebih besar terkena beberapa jenis kanker, termasuk kanker kerongkongan, limfoma, paru-paru, usus besar dan prostat. Menariknya, risiko leukemia, kanker payudara, kanker rahim, kanker kandung kemih, leukemia dan melanoma tidak mengalami peningkatan.

Menurut Kripke, ada banyak mekanisme yang dapat menjelaskan peningkatan risiko di atas. Sebagai contoh, regurgitasi esofagus dapat menyebabkan kanker kerongkongan. Di samping itu penggunaan obat tidur juga membuat kondisi orang dengan sleep apnea jauh lebih buruk, dan lebih rentan terjatuh dan mengalami kecelakaan mobil.

Sementara itu Dr Victor Fornari, direktur spesialis kejiwaan anak dan remaja dari Zucker Hillside Hospital mengatakan bahwa orang yang memakai obat tidur tidak perlu panik. Menurutnya, ada banyak alasan yang dapat menjelaskan peningkatan risiko kematian dan penggunaan pil tidur hanya memberikan sedikit pengaruh.

"Tidur adalah hal pertama yang harus dilakukan ketika seseorang berada di bawah tekanan karena sakit medis atau masalah psikologis. Ini adalah obat yang aman dan efektif bila diresepkan oleh dokter sebagai bagian dari rencana perawatan yang komprehensif," katanya.

"Jangan berhenti minum obat tidur jika Anda merasa bahwa Anda membutuhkannya dan sudah menggunakannya sesuai  petunjuk dokter. Tapi Anda harus sadar bahwa obat ini tidak dapat digunakan secara sembarangan," ucapnya.

Fornari menjelaskan bahwa, ada banyak cara alternatif untuk dapat mengatasi gangguan sulit tidur seperti misalnya melewatkan waktu tidur siang, melakukan aktivitas fisik, menghindari kafein dan melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kesehatan tidur.

Sementara itu, Dr Bryan Bruno, kepala departemen psikiatri Lenox Hill Hospital, New York City, memperingatkan dampak penggunaan obat tidur dalam jangka waktu panjang.

"Pil tidur bisa berbahaya dan idealnya hanya dapat digunakan sementara atau jangka pendek. Jika memungkinkan, hindari penggunaan pil tidur dalam jangka panjang untuk mencegah risiko ketergantungan. Terlepas dari apakah itu berbahaya atau tidak, obat ini harus digunakan secara hati-hati," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau