Pns rekening gendut

Keberadaan Dhana Masih Misterius

Kompas.com - 28/02/2012, 14:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan mantan pegawai Ditjen Pajak, Dhana Widyatmika, yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi, hingga saat ini masih misterius. Dhana, yang saat ini bertugas di Kantor Unit Pelayanan Pajak Daerah (UPPD) Setiabudi, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung RI sejak 17 Februari lalu. Dhana terakhir terlihat di Kantor Unit Pelayanan Pajak Daerah (UPPD) Setiabudi, Jumat (24/2/2012).

"Jumat dia memang masuk kerja, tetapi kemudian izin pulang cepat," kata Ketua Bagian Tata Usaha UPPD Setiabudi Tuti Choiriyah, di Jakarta, Selasa (28/2/2012).

Tuti mengungkapkan, Senin (27/2/2012) kemarin Dhana melayangkan surat izin untuk tidak masuk kerja hingga Selasa (28/2/2012). Permohonan izinnya ini ditujukan agar ia dapat memfokuskan diri pada proses penyidikan Kejaksaan Agung RI terkait dugaan rekening tak wajar yang dimilikinya.

"Hanya surat ini saja yang ada di meja saya. Seharusnya Rabu besok, dia sudah masuk," ujar Tuti.

Sejak Jumat lalu, menurut Tuti, pihaknya kehilangan kontak dengan Dhana. "Kami tidak tahu dia di mana. Setelah pulang cepat itu, dia tidak bisa dihubungi. Kami hanya berharap ada niat baik dia untuk menghubungi kami," tutur Tuti.

Dhana Widyatmika adalah pegawai Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta yang diduga memiliki rekening hingga Rp 60 miliar. Sebelumnya, Dhana sempat menjabat sebagai Account Representative Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam. Kemudian, ia diangkat menjadi Account Representative Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Dua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau