Saan Mustofa Tak Mau Jadi Hama Demokrasi

Kompas.com - 28/02/2012, 21:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi Partai Demokrat, Saan Mustofa, menyatakan tak ingin menjadi hama demokrasi, melainkan menjadi penumbuh atau penyubur demokrasi. Hal ini diungkapkan Saan ketika menerima penghargaan sebagai tokoh paling berpengaruh di media massa tahun 2011 dari Charta Politika, Selasa (28/2/2012) malam, di Jakarta.

Menurut Saan, politisi memang bisa disebut hama demokrasi jika hanya menjadikan politik sebagai alat mencari kepentingan kekuasaan dan kekayaan. Hal ini mengakibatkan politisi berlaku tanpa etika. "Politik itu tidak cuma kepentingan. Ada nilai-nilainya, ada dimensinya. Dimensi ibadah, keikhlasan, tulus, dan tidak berorientasi pada kepentingan," kata Saan.

Sebagai politisi partai penguasa, menurut Saan, ada tugas berbeda yang harus diemban. Berbeda dengan politisi partai oposisi, yang berbicara apa pun bisa.

"Politisi di koalisi parpol harus mampu mengomunikasikan capaian keberhasilan pemerintah dan menjawab kritikan publik. Ini tidak mudah. Apalagi sering kali yang diberi ruang adalah kritikan," katanya.

Adapun istilah hama politik dilontarkan Koordinator Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch Febri Diansyah. Menurut dia, demokrasi di Indonesia saat ini dirusak oleh hama-hama politik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau