JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi Partai Demokrat, Saan Mustofa, menyatakan tak ingin menjadi hama demokrasi, melainkan menjadi penumbuh atau penyubur demokrasi. Hal ini diungkapkan Saan ketika menerima penghargaan sebagai tokoh paling berpengaruh di media massa tahun 2011 dari Charta Politika, Selasa (28/2/2012) malam, di Jakarta.
Menurut Saan, politisi memang bisa disebut hama demokrasi jika hanya menjadikan politik sebagai alat mencari kepentingan kekuasaan dan kekayaan. Hal ini mengakibatkan politisi berlaku tanpa etika. "Politik itu tidak cuma kepentingan. Ada nilai-nilainya, ada dimensinya. Dimensi ibadah, keikhlasan, tulus, dan tidak berorientasi pada kepentingan," kata Saan.
Sebagai politisi partai penguasa, menurut Saan, ada tugas berbeda yang harus diemban. Berbeda dengan politisi partai oposisi, yang berbicara apa pun bisa.
"Politisi di koalisi parpol harus mampu mengomunikasikan capaian keberhasilan pemerintah dan menjawab kritikan publik. Ini tidak mudah. Apalagi sering kali yang diberi ruang adalah kritikan," katanya.
Adapun istilah hama politik dilontarkan Koordinator Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch Febri Diansyah. Menurut dia, demokrasi di Indonesia saat ini dirusak oleh hama-hama politik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang