Tahun ini, pelukis Nasirun (47) mendirikan museum yang khusus didedikasikan bagi para seniman senior yang terlupakan, bahkan terpinggirkan. Ia sering menyebut museum di Perumahan Bayeman Permai, Jalan Wates, Yogyakarta, itu sebagai museum zakat budaya.
Sebanyak 500 lukisan karya para seniman tersimpan di sana. Nasirun mengoleksi lukisan itu sejak 1994, sewaktu masih sebagai pelukis yunior dan belum dikenal orang.
”Museum ini didedikasikan untuk para seniman senior yang terlupakan, seperti Soenarto Pr dari Kelompok Sanggar Bambu, Affandi, Hendra Gunawan, dan Hariyadi. Kita harus belajar dan menghormati para senior,” kata Nasirun saat ditemui di museum yang didirikannya.
Beberapa lukisan, seperti ”Lahirnya Gatotkaca” karya Ratmoyo (1990), terpampang di sana. Harga lukisan itu disebut-sebut sekitar Rp 1 miliar. Namun, Nasirun mengoleksi lukisan itu dengan ”harga persahabatan” setelah pemilik tahu lukisan tersebut akan dipajang di museum kenangan.
Di lantai atas terpampang pula lukisan-lukisan lama karya pelukis Kartono Yudhokusumo sampai Rustamaji.
Selain mengoleksi karya para pelukis, tahun 1995, Nasirun juga mengoleksi lukisan berjudul ”Siteran” karya Wardoyo, dosennya yang juga menggelar pameran lukisan bersama dia.
”Waktu itu, lukisannya tak laku, begitu juga lukisan saya. Daripada tak dibeli, lukisan beliau saya beli,” ujarnya tertawa.