Jakarta, Kompas -
Di tunggal putra, kesempatan dimiliki Simon Santoso untuk memperbaiki peringkat. Pemain pelatnas Cipayung ini untuk sementara sudah berada di zona aman di peringkat ke-11 dunia. Namun, dengan masih adanya beberapa turnamen sebelum batas penghitungan akhir pada bulan April, posisi Simon belum terlalu aman.
Sesuai aturan penghitungan kualifikasi olimpiade, setiap negara bisa mengirim dua wakil jika ada dua pemain yang berada dalam peringkat 16 besar. Sejauh ini, selain Simon, juga ada Taufik Hidayat yang berada di peringkat ke-12. Taufik absen di turnamen ini dan memilih tampil di turnamen All England di Inggris, Maret mendatang.
Turnamen GP Gold Jerman ini menyediakan poin tambahan sebesar 7.000 bagi sang juara. Jika Simon tampil sebagai juara, peringkatnya dipastikan akan terdongkrak ke posisi ketujuh dunia.
”Saya ingin mengamankan posisi di sepuluh besar. Karena itu, saya akan berupaya tampil sebaik mungkin di turnamen ini,” kata Simon yang dihubungi dari Jakarta.
Dari hasil undian, Simon ditempatkan di grup bawah. Pemain yang diunggulkan di tempat kelima ini di babak pertama akan menghadapi pemain India, Ajay Jayaram.
Di atas kertas, Simon mestinya tidak akan mengalami kesulitan. Dia baru akan menghadapi lawan berat di perempat final, yakni pemain Jepang, Sho Sasaki, yang ditempatkan sebagai unggulan ketiga.
Jika lolos dari hadangan Sasaki, Simon kemungkinan bakal menghadapi juara dunia 2010 asal China, Chen Jin, di semifinal. Jika lolos dari Chen Jin, di final kemungkinan ia bertemu pemain China lainnya, Lin Dan.
Simon mengakui bahwa kondisi fisik dan staminanya sudah membaik setelah mengalami cedera engkel saat tampil di kualifikasi Piala Thomas zona Asia di Makau.
Selain Simon, di tunggal putra, Indonesia juga punya wakil lain, yakni Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro, Tommy Sugiarto, dan Andre Kurniawan.
Sama halnya dengan di sektor ganda, pemain Indonesia juga punya kepentingan untuk memburu poin. Untuk sektor ganda, aturan penghitungan kualifikasi berbeda dengan tunggal. Setiap negara boleh mengirim dua wakil jika ada dua tandem yang masuk dalam peringkat delapan besar dunia.
Sejauh ini, Indonesia baru menempatkan satu wakil di posisi delapan besar, yakni pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan. Dua ganda lainnya, Markis Kido/Hendra Setiawan dan Alvent Yulianto/Hendra AG, berturut-turut menempati peringkat kesembilan dan kesepuluh.
Karena itu, kedua pasangan ini harus berjuang keras masuk delapan besar jika ingin berangkat ke Olimpiade London.
Dari hasil undian, juara Olimpiade Beijing, Markis/Hendra, berada di grup bawah. Lawan pertama mereka adalah pasangan Kanada, Adrian Liu/Derrick NG. Sayangnya, jika terus melaju, mereka sudah harus berhadapan dengan Bona/Ahsan di babak perempat final.
Sementara itu, pasangan Alvent/Hendra berada di grup atas. Lawan pertama mereka adalah pasangan Denmark, Jonas Rasmussen/Mads Conrad Petersen. Jika terus melaju di babak perempat final, mereka akan berjumpa dengan unggulan pertama dari Korea Selatan, Lee Yong- dae/Jung Jae-sung.
”Ya, kami coba satu per satu, mudah-mudahan bisa buat kejutan,” kata Alvent.