Bulu tangkis

Kesempatan Pemain Buru Poin

Kompas.com - 29/02/2012, 02:24 WIB

Jakarta, Kompas - Sejumlah pebulu tangkis Indonesia akan berlaga di turnamen Grand Prix Gold Jerman Terbuka mulai Rabu (29/2) sampai akhir pekan ini. Penampilan mereka di turnamen ini menjadi kesempatan berburu poin untuk penghitungan kualifikasi Olimpiade 2012 di London.

Di tunggal putra, kesempatan dimiliki Simon Santoso untuk memperbaiki peringkat. Pemain pelatnas Cipayung ini untuk sementara sudah berada di zona aman di peringkat ke-11 dunia. Namun, dengan masih adanya beberapa turnamen sebelum batas penghitungan akhir pada bulan April, posisi Simon belum terlalu aman.

Sesuai aturan penghitungan kualifikasi olimpiade, setiap negara bisa mengirim dua wakil jika ada dua pemain yang berada dalam peringkat 16 besar. Sejauh ini, selain Simon, juga ada Taufik Hidayat yang berada di peringkat ke-12. Taufik absen di turnamen ini dan memilih tampil di turnamen All England di Inggris, Maret mendatang.

Turnamen GP Gold Jerman ini menyediakan poin tambahan sebesar 7.000 bagi sang juara. Jika Simon tampil sebagai juara, peringkatnya dipastikan akan terdongkrak ke posisi ketujuh dunia.

”Saya ingin mengamankan posisi di sepuluh besar. Karena itu, saya akan berupaya tampil sebaik mungkin di turnamen ini,” kata Simon yang dihubungi dari Jakarta.

Dari hasil undian, Simon ditempatkan di grup bawah. Pemain yang diunggulkan di tempat kelima ini di babak pertama akan menghadapi pemain India, Ajay Jayaram.

Di atas kertas, Simon mestinya tidak akan mengalami kesulitan. Dia baru akan menghadapi lawan berat di perempat final, yakni pemain Jepang, Sho Sasaki, yang ditempatkan sebagai unggulan ketiga.

Jika lolos dari hadangan Sasaki, Simon kemungkinan bakal menghadapi juara dunia 2010 asal China, Chen Jin, di semifinal. Jika lolos dari Chen Jin, di final kemungkinan ia bertemu pemain China lainnya, Lin Dan.

Simon mengakui bahwa kondisi fisik dan staminanya sudah membaik setelah mengalami cedera engkel saat tampil di kualifikasi Piala Thomas zona Asia di Makau.

Selain Simon, di tunggal putra, Indonesia juga punya wakil lain, yakni Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro, Tommy Sugiarto, dan Andre Kurniawan.

Sama halnya dengan di sektor ganda, pemain Indonesia juga punya kepentingan untuk memburu poin. Untuk sektor ganda, aturan penghitungan kualifikasi berbeda dengan tunggal. Setiap negara boleh mengirim dua wakil jika ada dua tandem yang masuk dalam peringkat delapan besar dunia.

Sejauh ini, Indonesia baru menempatkan satu wakil di posisi delapan besar, yakni pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan. Dua ganda lainnya, Markis Kido/Hendra Setiawan dan Alvent Yulianto/Hendra AG, berturut-turut menempati peringkat kesembilan dan kesepuluh.

Karena itu, kedua pasangan ini harus berjuang keras masuk delapan besar jika ingin berangkat ke Olimpiade London.

Dari hasil undian, juara Olimpiade Beijing, Markis/Hendra, berada di grup bawah. Lawan pertama mereka adalah pasangan Kanada, Adrian Liu/Derrick NG. Sayangnya, jika terus melaju, mereka sudah harus berhadapan dengan Bona/Ahsan di babak perempat final.

Sementara itu, pasangan Alvent/Hendra berada di grup atas. Lawan pertama mereka adalah pasangan Denmark, Jonas Rasmussen/Mads Conrad Petersen. Jika terus melaju di babak perempat final, mereka akan berjumpa dengan unggulan pertama dari Korea Selatan, Lee Yong- dae/Jung Jae-sung.

”Ya, kami coba satu per satu, mudah-mudahan bisa buat kejutan,” kata Alvent. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau