Dihantui Rasa Takut karena Tak Perawan

Kompas.com - 01/03/2012, 10:19 WIB

TANYA :

Saya seorang mahasiswa yang selalu dihantui rasa takut dan bersalah karena saya sudah tidak perawan lagi. Saya juga telah melakukan aborsi 6 bulan yang lalu. Saya sangat menyesal dok dengan apa yang  telah saya lakukan.  Saya takut dok, apakah ada laki-laki yang mau terima saya apa adanya, kalau dia tau bahwa saya sudah tidak perawan lagi? Apa yang harus saya lakukan? Apakah laki-laki akan tahu dan bisa merasakan kalau saya sudah tidak perawan lagi, walaupun saya sudah lama tidak melakukan hubungan intim lagi? Terima kasih atas jawabannya.

(Dwi, 22, Palembang)

JAWAB :

Dwi yang baik,

Saya turut prihatin akan apa yang telah dialami Dwi dalam kehidupan ini. Semoga perbuatan yang telah dilakukan benar-benar disesali dan tidak ada niatan untuk mengulanginya lagi. Perasaan bersalah dan rasa takut pasti menghantui kehidupan Dwi.

Hal ini disebabkan karena apa yang telah dilakukan Dwi tidak sesuai dengan norma masyarakat yang selama ini kita anut. Kesucian seorang wanita dalam budaya dan nilai sosial masyarakat timur khususnya di Indonesia masih dianggap sebagai sesuatu yang membuat seorang wanita terhormat di dalam kehidupannya.

Kehilangan kesucian tersebut sebelum waktu dan bukan untuk suami memang seringkali dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak sesuai norma yang dianut kebanyakan orang. Walaupun kita tidak pungkiri ada sebagian kecil golongan remaja dan dewasa muda yang mulai memandang bahwa seks pranikah itu adalah sesuatu hal yang biasa, tetapi dampak dari melakukan hal ini tanpa persiapan yang matang seringkali tidak dipikirkan.

Penularan penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi dan persalinan yang tidak sehat, serta kondisi psikologis ibu dan anak yang dilahirkan  adalah hal-hal yang kadang tidak dipikirkan seseorang sebelum melakukan seks pranikah.

Kembali ke masalah Dwi, sebenarnya jujur masih banyak laki-laki yang tidak hanya mengharapkan keperawanan ketika menikahi seorang gadis. Walaupun sulit, saya rasa kejujuran di awal pernikahan adalah suatu hal yang penting. Jadi kalau memang Dwi siap, maka beritahukanlah kepada pasangan anda bahwa anda dulu pernah melakukan hal-hal yang tidak sesuai norma tetapi saat ini sudah insaf dan ingin kembali di jalan yang baik. Saya rasa tidak ada seorang pun di dunia yang berhak menghakimi orang yang sudah menyesali perbuatannya.

Bentuk fisik ataupun yang biasa dikatakan orang tentang tanda keperawanan, seperti selaput dara, tidak selamanya bisa menjadi patokan. Orang tidak bisa mengatakan seseorang tidak perawan karena masalah tidak adanya (utuhnya) selaput dara karena selaput dara bisa robek karena berbagai sebab bukan hanya karena berhubungan seks. Satu hal yang paling penting adalah menekankan kejujuran kepada pasangan anda. Jangan sampai setelah menikah anda baru mengatakan hal ini dan malahan menjadi kesan bahwa anda pembohong. Semoga bisa membantu.

Salam Sehat Jiwa.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau