JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Tim Mobil Penelitian Gas Universitas Gajah Mada, Jayan Sentanuhady, mengatakan produksi gas alam di Indonesia memang sangat besar, tapi alokasi untuk transportasi darat masih sangat minim. "Di satu sisi, produksi gas alam di Indonesia juga sangat besar. Akan tetapi sebagian besar dari gas alam di Indonesia sudah dialokasikan untuk pupuk, industri dan kepentingan ekspor," ujar Jayan, dalam diskusi terkait energi, di Jakarta, Kamis (1/3/2012).
Kondisi alokasi yang minim bagi transportasi darat menjadi hal yang patut diperhatikan seiring dengan rencana diversifikasi energi untuk bahan bakar kendaraan. Ia menilai program konversi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG) yang dijadwalkan berlaku pada 1 April mendatang adalah hal yang sangat baik.
Namun, kata Jayan, perlu kajian lebih lanjut mengenai isu keselamatan gas, jaminan pasokan gas dan kesiapan infrastruktur demi hasil yang optimal. "Pemerintah juga harus memprioritaskan pengalokasian gas domestik untuk kepastian pasokan BBG dan dengan demikian akan mendukung kepastian investasi infrastruktur," tambah Jayan.
Ia mengatakan, untuk jangka menengah, pemerintah perlu mengatur kembali kontrak cadangan gas untuk ekspor, serta mengatur lapangan gas berskala kecil yang belum dikembangkan. Pemerintah juga harus memastikan jaminan pasokan BBG di setiap SPBG, pemerataan pembangunan SPBG serta penyediaan alat konversi bagi mobil pribadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang