KOMPAS.com - Kanada ikut berpartisipasi memberikan sanksi ekonomi kepada Myanmar. Alhasil, upaya itu justru memperbarui demokratisasi di Myanmar. "Kanada telah sangat membantu kami berkaitan dengan gerakan demokrasi," kata pemimpin prodemokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi dalam pidato melalui jaringan video kepada Universitas Carleton pada Rabu, kata pers Kanada.
Seturut warta AFP, Suu Kyi menambahkan para pemimpin sipil baru Myanmar menanggapi tekanan ekonomi dari Kanada dan negara-negara Barat lainnya dengan menyetujui reformasi lebih lanjut.
Kendati begitu, Suu Kyi mendesak para pendukung reformasi untuk tetap waspada karena negara yang sebelumnya dikenal sebagai Burma itu melakukan negosiasi transisi dramatis setelah berakhirnya hampir setengah abad kekuasaan militer langsung tahun lalu. "Cara di mana Anda dapat terus membantu kami adalah menjaga kesadaran Anda mengenai apa yang terjadi di Burma," kata Suu Kyi, simbol protes damai demokratis internasional setelah bertahun-tahun dikenakan tahanan rumah.
"Jangan terlalu optimis. Jangan terlalu pesimis. Cobalah untuk melihat hal-hal itu pada saat mereka mencoba untuk menjaga kontak dengan rakyat biasa Myanmar," imbuh Suu Kyi.
Suu Kyi, yang partainya memboikot pemilu 2010 karena berpendapat aturan itu tidak adil, mencalonkan diri untuk perebutan kursi di parlemen untuk pertama kalinya.
Pemungutan suara dalam pemilu 2010, yang menyapu sekutu politik tentara yang berkuasa, dirusak oleh keluhan-keluhan meluas mengenai kecurangan dan intimidasi.
Pihak oposisi tidak dapat mengancam mayoritas partai yang berkuasa. Jika itu terjadi, oposisi membutuhkan semua 48 kursi yang tersedia dalam pemilihan-sela yang akan diselenggarakan pada 1 April. Kendati begitu, kemenangan Suu Kyi akan menjadi legitimasi bagi parlemen yang belum berpengalaman di negara itu.