Seusai pertandingan, Steven Gerrard menjadi orang pertama yang menghampirinya. Pemain bintang Liverpool ini dengan profesional memuji kepemimpinan Parker di lapangan.
”Dia (Gerrard) berkata saya pantas menjabat kapten Inggris. Dia akan mendukung saya. Saya tidak bisa mengharapkan apa pun dari Stevie. Dia merupakan pemain luar biasa dan profesional,” ujarnya.
Buat Parker, menjadi kapten tim nasional Inggris seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dia bercerita, sejak kecil dia selalu berkhayal dan bermimpi untuk menjadi kapten tim Inggris. Dan semua hayalan dan impian akhirnya kesampaian saat dia sudah mencapai usia 31 tahun.
”Buat saya, ini momen yang sangat spesial sekaligus menegangkan. Spesial karena mimpi saya sejak kecil akhirnya sudah terwujud. Sementara menegangkan karena di tim Inggris banyak pemain yang pernah menjadi kapten sebelumnya. Beruntung saya bisa melewati laga ini dengan baik meski hasil akhirnya tidak demikian,” kata Parker, yang sudah 11 kali tampil membela timnas Inggris.
Terpilihnya Parker menjadi kapten tim dalam laga ini sudah menjadi sebuah kejutan. Semula banyak orang mengira ban kapten akan diberikan kepada Gerrard untuk menggantikan kapten sebelumnya, John Terry, yang tersandung kasus rasisme.
Asumsinya sederhana, selain kemampuan permainan yang sudah teruji, Gerrard merupakan pemain yang kaya dalam pengalaman menghadapi situasi sulit. Kepemimpinan Gerrard ketika merebut trofi Liga Champions bersama Liverpool tahun 2005 adalah kisah heroik yang tak terlupakan.
Selain Gerrard, juga ada dua pemain lain yang masuk nominasi, yakni dua pemain klub Manchester City, penjaga gawang Joe Hart dan pemain gelandang James Milner. Namun, Pearce tetap pada keyakinannya dengan memilih Parker sebagai kapten tim.
Dalam wawancara dengan BBC, Pearce menyatakan, Parker merupakan sosok pemain yang secara kriteria cocok dengan keinginannya. ”Saya hanya berpikir, dia (Parker) memiliki sebuah kepribadian yang cukup hebat dan ia sangat respek dengan pemain lainnya. Saya merasa ia cukup pantas mengisi jabatan tersebut. Saya juga telah membicarakan hal ini kepada Stevie (Gerrard) dan ia cukup mengerti,” katanya.
Lalu siapakah sosok Parker ini? Memulai karier profesional di tim Charlton Athletic, nama Parker baru benar-benar berkibar pada akhir musim kompetisi lalu. Ironisnya, Parker terpilih sebagai pemain terbaik oleh wartawan sepak bola Inggris pada saat timnya, West Ham United, terdegradasi dari Liga Primer Inggris.
Parker pun memilih hengkang ke Tottenham Hotspur pada bulan Agustus dengan nilai transfer sebesar 5,5 juta poundsterling. Kepindahannya ke Tottenham tidak sia-sia. Sebab, di klub London Utara ini permainan Parker semakin menggila dan Selasa lalu dia dinobatkan sebagai pemain terbaik pilihan suporter.
Parker menempati urutan teratas dalam situs web FA dengan dukungan suara sebanyak 17 persen dari 15.000 pemilih yang dilakukan oleh fans Inggris. ”Ini sebuah penghormatan besar. Dengan melihat beberapa nama yang ada dalam nominasi penghargaan, hal ini tentu sebuah capaian. Ini saat membanggakan buat saya,” ujar Parker.
Parker menyanjung para fans-nya dan merasa senang karena fans memilihnya. Bagi pemain kelahiran Lambeth, London, ini, mendapatkan apresiasi atas hasil kerja di lapangan adalah hal yang spesial.
Sebelum masa-masa indah ini dirasakan, seperti kebanyakan pemain bintang sepak bola lainnya, Parker harus kerja keras menemukan jati dirinya.
Dia pun bertualang dengan pindah ke beberapa klub. Setelah tujuh tahun bersama Charlton dan sempat dipinjamkan ke Norwich City, Parker berganti kaus tim Chelsea. Dia bergabung di Stamford Bridge pada 2004 dan cuma bertahan satu musim. Bersama Chelsea, Parker hanya bermain 15 pertandingan dan menyumbang satu gol.
Tersisih dari Chelsea, Parker memilih Newcastle United sebagai klub persinggahan berikutnya. Namun, seperti di Chelsea, penampilan Parker di Newcastle tidak terlalu menonjol. Melakoni 55 laga selama dua musim, Parker menyumbang empat gol.
Setelah itu, Parker kembali putar haluan dengan bergabung bersama West Ham United pada awal musim 2007. Di klub inilah permainan Parker mulai terpantau pelatih Inggris sebelumnya, Fabio Capello. Namun, butuh waktu sekitar empat tahun buat Parker untuk kembali mengenakan seragam ”The Three Lions”.
Salah satu penampilan kunci Parker untuk timnas Inggris adalah saat Inggris mengungguli Spanyol dalam laga persahabatan pada November tahun lalu dengan skor 1-0. Parker percaya hasil melawan juara Piala Dunia adalah salah satu hasil terbaik tahun lalu.
Rabu kemarin bisa dibilang sebagai pencapaian tertinggi Parker dalam timnas. Meski status laga hanya persahabatan dan berakhir dengan kekalahan 2-3, buat Parker penampilan di Wembley itu sudah menjadi momen yang membanggakan.
”Menjadi kapten tim Inggris adalah momen yang membanggakan sepanjang karier saya. Ketika kau bermain untuk timnas, kamu sudah melampaui impian banyak pemain sepak bola lainnya,” kata Parker.
Soal jabatan kapten tim, Parker menilai, seorang kapten tim adalah pemain yang menghormati pemain lain. Dia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri dan menempatkan kerja sama tim di atas kepentingannya. Itulah komoditas vital yang harus ada dalam diri seorang kapten tim,” kata Parker.
Parker sendiri berharap di pertandingan mendatang dirinya tetap menjadi kapten tim Inggris. ”Tentunya saya ingin terus menjadi seorang kapten. Saya sangat menyukainya dan ingin terus bekerja dengan keras,” ujar Parker seperti dilansir oleh Sky Sport.
Secara khusus, Parker tetap memuji penampilan rekan-rekannya saat melawan Belanda. ”Saya pikir kami menunjukkan semangat yang hebat, keberanian yang hebat untuk kembali ke dalam permainan (ketika tertinggal). Ketika tertinggal 2-0, kami bisa saja hancur berantakan, tetapi kami menggali semangat dan kembali dalam pertandingan,” puji Parker.
Laga melawan Belanda kemarin sebenarnya bukan cuma ujian buat Parker, tetapi juga bagi Pearce sebagai pelatih sementara. Laga ini pertandingan pertama Inggris setelah ditinggal Capello. Jika Parker sudah mendapatkan panggungnya, buat Pearce masih tanda tanya.