Inalum Siap Diambil Alih Pemerintah

Kompas.com - 02/03/2012, 12:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah mendapatkan laporan dari tim negosiasi, pemerintah siap mengambil alih Inalum sesudah masa kontraknya habis tahun 2013.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, di Jakarta, Jumat (2/3/2012), mengatakan, posisi Indonesia terkait kinerja Inalum sudah berada dalam on the right track. "Tahun 2013, kontrak Inalum akan segera berakhir. Pemerintah dengan timnya sudah terus melakukan pembicaraan. Kita mempersiapkan diri untuk nantinya mengambil alih Inalum," katanya.

Dalam fase pertama, pemerintah akan menyelesaikan berbagai hal terkait kontraknya. Sesuai dengan persetujuan induk yang ada, Menteri Keuangan akan menyusun langkah-langkah. Entah pendanaannya berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) atau dari dana lain.

Pada prinsipnya, kata Hatta, Inalum akan kembali dikuasai pemerintah. Setelah itu, barulah dipikirkan Indonesia akan bermitra dengan instansi atau negara lainnya. Entah bermitra kembali dengan Jepang, atau beralih terlebih dahulu ke Indonesia dengan mengakhiri persetujuan induk hingga tahun 2013.

"Kita memikirkan perencanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi Inalum dan mengaitkan bahan mentah yang ada di Tanah Air kita. Sebagaimana diketahui, PT Antam Tbk sekarang sudah mengembangkan industri bauksit dan alumina di Kalimantan," ujar Hatta.    

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau