Konflik di mesuji

Warga Register 45 Ajukan Tiga Tuntutan

Kompas.com - 02/03/2012, 20:39 WIB

MESUJI, KOMPAS.com — Warga yang mendiami kawasan hutan Register 45 Mesuji, Lampung, mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah terkait polemik sengketa agraria yang tengah terjadi.

Situasi di Register 45 kembali memanas seiring akan dilakukannya penggusuran warga oleh pemerintah daerah.

Ketua Lembaga Adat Megou Pak, Wan Mauli, yang mengoordinasi warga, Jumat (2/3/2012), mengungkapkan, tuntutan pertama adalah pengusutan atas oknum-oknum lembaga swadaya masyarakat atau lembaga adat yang telah memperjualbelikan tanah di kawasan Register 45 Mesuji.

”Kedua, pengusutan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat dalam penggusuran rumah-rumah warga (di daerah Tugu Roda, Sungai Buaya) tahun lalu. Ketika itu, tanpa ampun, aparat merobohkan masjid, pura, rumah warga, serta merampas hasil panen singkong mereka,” tuturnya.

Tuntutan ketiga, yaitu penyelesaian akar konflik agraria terkait obyek tanah di Register 45 Mesuji. ”Kami meminta pengukuran ulang HGU perusahaan (PT Silva Inhutani Lampung). Luas HGU yang sah menurut lembaga adat kami adalah 33.500 hektar, bukan 43.100 hektar. Untuk itu, kelebihannya tolong dikembalikan kepada warga,” tuturnya.

Saat ini ribuan warga dari sejumlah daerah menduduki kawasan Register 45 Mesuji. Meski ada peringatan agar mereka segera angkat kaki dari kawasan hutan itu, warga tetap nekat bertahan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau