Suap wisma atlet

Cerita Angie yang Tak Pernah Habis

Kompas.com - 03/03/2012, 04:14 WIB

Puluhan wartawan berlari begitu melihat Angelina Sondakh (Angie), anggota Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat, muncul di Gedung Nusantara, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (2/3). Kemarin pagi menjadi hari pertama Angie muncul di parlemen setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap wisma atlet SEA Games pada 3 Februari.

Hampir sebulan Angie tak pernah terlihat hadir dalam rapat Fraksi Partai Demokrat yang biasanya digelar setiap Jumat. Puteri Indonesia tahun 2001 itu juga tak pernah terlihat menghadiri rapat-rapat di komisi ataupun rapat paripurna.

Angie yang mengenakan blus batik berwarna biru muncul di dekat ruang rapat Badan Musyawarah (Bamus) sekitar pukul 10.00. Ia mengaku hadir untuk menghadiri rapat Fraksi Partai Demokrat. ”Saya hadir untuk rapat fraksi,” tuturnya.

Setiap pekan di hari Jumat, Fraksi Partai Demokrat memang menggelar rapat internal di ruang Bamus Gedung Nusantara. Akan tetapi, kemarin tidak ada agenda rapat internal. Fraksi Partai Demokrat menggelar seminar ”Telaah Kritis Revisi Undang-Undang Pangan”.

Setelah lebih dari satu jam mengikuti seminar, perempuan kelahiran 27 Desember 1977 itu beranjak keluar ruangan. Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah VI itu kembali dikerubuti wartawan begitu keluar dari ruang seminar.

Ia dicecar pertanyaan seputar kasus suap wisma atlet SEA Games. Namun, anggota Komisi X itu sama sekali tak menjawab. Angie hanya mengatakan bahwa anaknya, Keanu Jabaar Massaid, menangis di sekolahnya. ”Anak saya Keanu menangis di sekolahnya. Saya mau tengok dulu ke sekolah,” tuturnya.

Semenjak ditetapkan sebagai tersangka, Angie tidak pernah bersedia berbicara dengan media. Baru Kamis lalu Angie bersedia bicara dengan menggelar jumpa wartawan di rumahnya di Taman Cilandak, Jakarta Selatan. Namun, Angie tidak menjelaskan masalah hukum yang menimpanya. Angie lebih banyak bercerita tentang kondisi anak-anak dan keluarganya.

Selama ini, bukan hanya masalah hukum yang membelit Angie yang menjadi sorotan publik dan media. Persoalan pribadinya juga diungkap kepada publik. Elza Syarif, kuasa hukum M Nazaruddin, membeberkan rencana Angie menggugat cerai Adjie Massaid.

Ada pula tuduhan Angie menelantarkan dua anak tirinya, Zahwa dan Alliyah. Tuduhan itu pun ditepis Angie dan kedua anak tirinya. Zahwa dan Alliyah kerap menunjukkan dukungan kepada Angie melalui ”kicauannya” di Twitter.

Bisa dibilang saat ini semua hal yang menyangkut Angie selalu disorot publik. Termasuk kata-katanya dalam iklan kampanye Partai Demokrat, yakni ”Katakan tidak pada korupsi”.

(ANITA YOSSIHARA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau