200 Tewas Akibat Gudang Senjata Meledak

Kompas.com - 05/03/2012, 05:28 WIB

KINSHASA, KOMPAS.com - Sekitar 200 orang dilaporkan tewas Minggu, ketika sebuah gudang senjata meledak di Brazzaville, ibu kota Republik Kongo. Demikian dikatakan seorang pejabat senior di kantor presiden mengutip beberapa sumber rumah sakit.

Selain korban tewas, ratusan orang juga cedera akibat ledakan itu, yang terjadi di ibu kota negara penghasil minyak itu pada Minggu pagi dan menghancurkan rumah-rumah di sekitar lokasi kejadian.

"Menurut sumber-sumber di rumah sakit pusat, sekitar 200 orang tewas dan banyak lagi yang cedera," kata Betu Bangana, kepala protokol di kantor presiden di Brazzaville, kepada Reuters melalui telepon.

"Sejumlah orang masih (terperangkap) di rumah mereka... Mereka mengatakan seluruh lingkungan Mpila hancur," tambahnya.
Menteri Pertahanan Charles Zacharie Bowao kepada radio pemerintah membantah ledakan tersebut akibat terjadinya kudeta atau pemberontakan.  Menurut Charles, ledakan itu murni akibat kebakaran yang terjadi di gudang senjata, di pangkalan Resimen Blinde di tepi sungai Mpila.
Kepanikan juga terjadi di Kinshasa, di seberang Sungai Kongo yang memisahkan negara eks-koloni Perancis itu dengan Republik Demokratis Kongo (DRC). Dilaporkan jendela-jendela pecah akibat kuatnya ledakan tersebut yang terasa getarannya hingga empat kilometer.
Pemerintah di kedua negara Kongo itu menghimbau agar masyarakat tenang. Sementara itu, kantor berita China Xinhua mengutip sejumlah pejabat China yang melaporkan, tiga pekerja China tewas dalam ledakan tersebut dan puluhan orang lagi cedera, beberapa dalam keadaan serius.
Menurut Xinhua, korban-korban yang tewas dan cedera itu merupakan bagian dari sekitar 140 pekerja China dari perusahaan Beijing Construction Engineering Group.
Seorang saksi Reuters mengatakan, penduduk lari meninggalkan daerah ledakan, yang terletak di dekat kawasan berpenduduk padat dan diblokade oleh pasukan keamanan, sementara sebuah helikopter militer terbang di atas wilayah itu.
Sejumlah warga yang mengungsi mengatakan, rumah-rumah di daerah itu hancur. Televisi Kongo menunjukkan gambar penduduk yang panik di jalan-jalan. Juga terlihat banyak korban cedera yang segera dibawa ke rumah sakit atau diberi pertolongan pertama di jalan.
Republik Kongo dilanda sejumlah kerusuhan dan perang saudara sejak memperoleh kemerdekaan dari Perancis. Namun, kondisi negara itu secara umum terkendali setelah Presiden Denis Sassou-Nguesso merebut kekuasaan lewat kudeta pada 1997.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau