KOMPAS.com - Demi mendapatkan tubuh yang langsing dalam waktu yang singkat, para perempuan tak segan untuk melakukan diet yang terbilang ekstrim dan sebenarnya termasuk berbahaya. Salah satu diet terekstrim dan sedang menjadi kontroversi saat ini adalah diet KEN atau Ketogenic Enternal Nutrition.
Diet ini dikategorikan ekstrim karena dalam menjalankan diet KEN ini, para pelaku diet tidak boleh makan apapun selama 10 hari. Selama 10 hari tidak makan, untuk mencukupi kebutuhan gizinya mereka diberi asupan makanan berupa protein dan nutrisi lain dalam bentuk cairan yang disalurkan langsung ke dalam perut melalui sebuah selang kecil yang mengalir melalui hidung ke dalam perut.
Cara ini mirip dengan sonde lambung yang biasa digunakan pasien di rumah sakit yang tidak mampu makan dengan cara yang normal. Namun pada diet KEN, ujung salah satu selang plastik ini berfungsi sebagai pompa elektrik untuk mengalirkan dua liter makanan cair selama 24 jam penuh. Formula makanan diet ini terbuat dari campuran protein diet yang bisa disaring dan dicerna dengan mudah oleh ginjal.
Selama menjalankan diet ini, Anda tetap bisa melakukan berbagai kegiatan normal lainnya, asalkan Anda bersedia membawa-bawa alat pemompa formula diet dalam tas, ransel, atau menggantungnya di samping tempat tidur saat malam hari. Selain merepotkan, penampilan pun akan sedikit terganggu akibat adanya jalur selang yang menempel pada wajah.
Sesekali para pengguna memang diperbolehkan untuk melepas selang diet ini selama satu jam per harinya, hanya untuk mandi dan minum air, teh, kopi tanpa gula dan susu, serta teh herbal. Tetapi bayangkan jika setiap kali Anda harus memasukkan selang sepanjang sekitar satu meter melalui hidung menuju ke lambung. Nggak asyik banget, kan?
Pola diet ini bekerja dengan menjaga tubuh untuk mengontrol rasa lapar yang berlebihan, dan memaksa tubuh untuk menggunakan lemak dari tubuh untuk menghasilkan energi. KEN ini diperkirakan mampu menurunkan bobot tubuh sampai 10 persen dari berat badan semula hanya dalam waktu 10 hari, tanpa menyebabkan hilangnya otot atau menyebabkan kelaparan.
Diet tanpa makanan sama sekali ini ditemukan di Italia oleh Gianfranco Cappello, profesor dari La Sapienza Hospital, University of Rome. Cappello adalah ahli dalam bidang rekayasa makanan buatan, dan program dietnya ini dinilai berhasil untuk sekitar 40.000 klien KEN dietnya. Di Inggris, diet ini mulai diperkenalkan oleh Dr Ray Shidrawi yang percaya bahwa diet ini bisa diandalkan untuk menurunkan berat badan.
"Tanpa konsumsi karbohirat, ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, tidak akan ada rasa lapar, dan kedua, tubuh akan mulai membakar timbunan lemak dalam jumlah yang lebih banyak. Ketika diet dijalankan selama 24 jam penuh, tubuh akan tetap berada dalam tipe pembakaran lemak. Semakin berat tubuh, maka semakin banyak penurunan bobot tubuh Anda," tukasnya.
Kontroversi diet
Dr Shidrawi menambahkan, tidak makan selama 10 hari bisa menghilangkan pikiran dari makanan yang bagi beberapa orang bisa dikaitkan dengan perasaan stres serta perasaan bersalah. Namun meskipun hasilnya memuaskan, amankah diet dengan cara ini?
Menurut dr Shidrawi, diet ini sebenarnya aman karena setiap pasien akan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan terlebih dulu. Shidrawi mengakui bahwa diet ini memiliki efek samping, yaitu sembelit, karena tubuh kekurangan serat. Efek lainnya adalah nafas yang kurang sedap karena ketones (zat sisa yang dibuang ketika pembakaran lemak) ini dibuang melalui urin dan nafas. Selain itu, meski Anda tidak akan merasa lapar, namun Anda akan merasa sangat lelah.
Karena pola diet yang ekstrim ini, Shidrawi merekomendasikan untuk menurunkan berat badan 2-4 kg saja per minggu, dan dalam jangka waktu yang lama. "Selama waktu itu, Anda bisa belajar bagaimana mengatur asupan makanan yang masuk dengan lebih baik. Selain itu psikologis dan emosional yang biasanya ditujukan ke makanan bisa dikontrol dengan tepat," beber Helen Bond, ahli diet sekaligus pembicara untuk British Dietetic Association.
Seharusnya, program diet tidak menyiksa diri sendiri. Menjaga pola makan seimbang dan menghitung kalori, diimbangi olahraga teratur, sepertinya merupakan cara yang paling tepat untuk menjaga bentuk tubuh dan berat badan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang