Diet Metode Sonde, Amankah?

Kompas.com - 05/03/2012, 16:59 WIB

KOMPAS.com - Demi mendapatkan tubuh yang langsing dalam waktu yang singkat, para perempuan tak segan untuk melakukan diet yang terbilang ekstrim dan sebenarnya termasuk berbahaya. Salah satu diet terekstrim dan sedang menjadi kontroversi saat ini adalah diet KEN atau Ketogenic Enternal Nutrition.

Diet ini dikategorikan ekstrim karena dalam menjalankan diet KEN ini, para pelaku diet tidak boleh makan apapun selama 10 hari. Selama 10 hari tidak makan, untuk mencukupi kebutuhan gizinya mereka diberi asupan makanan berupa protein dan nutrisi lain dalam bentuk cairan yang disalurkan langsung ke dalam perut melalui sebuah selang kecil yang mengalir melalui hidung ke dalam perut.

Cara ini mirip dengan sonde lambung yang biasa digunakan pasien di rumah sakit yang tidak mampu makan dengan cara yang normal. Namun pada diet KEN, ujung salah satu selang plastik ini berfungsi sebagai pompa elektrik untuk mengalirkan dua liter makanan cair selama 24 jam penuh. Formula makanan diet ini terbuat dari campuran protein diet yang bisa disaring dan dicerna dengan mudah oleh ginjal.

Selama menjalankan diet ini, Anda tetap bisa melakukan berbagai kegiatan normal lainnya, asalkan Anda bersedia membawa-bawa alat pemompa formula diet dalam tas, ransel, atau menggantungnya di samping tempat tidur saat malam hari. Selain merepotkan, penampilan pun akan sedikit terganggu akibat adanya jalur selang yang menempel pada wajah.

Sesekali para pengguna memang diperbolehkan untuk melepas selang diet ini selama satu jam per harinya, hanya untuk mandi dan minum air, teh, kopi tanpa gula dan susu, serta teh herbal. Tetapi bayangkan jika setiap kali Anda harus memasukkan selang sepanjang sekitar satu meter melalui hidung menuju ke lambung. Nggak asyik banget, kan?

Pola diet ini bekerja dengan menjaga tubuh untuk mengontrol rasa lapar yang berlebihan, dan memaksa tubuh untuk menggunakan lemak dari tubuh untuk menghasilkan energi. KEN ini diperkirakan mampu menurunkan bobot tubuh sampai 10 persen dari berat badan semula hanya dalam waktu 10 hari, tanpa menyebabkan hilangnya otot atau menyebabkan kelaparan.

Diet tanpa makanan sama sekali ini ditemukan di Italia oleh Gianfranco Cappello, profesor dari La Sapienza Hospital, University of Rome. Cappello adalah ahli dalam bidang rekayasa makanan buatan, dan program dietnya ini dinilai berhasil untuk sekitar 40.000 klien KEN dietnya. Di Inggris, diet ini mulai diperkenalkan oleh Dr Ray Shidrawi yang percaya bahwa diet ini bisa diandalkan untuk menurunkan berat badan.

"Tanpa konsumsi karbohirat, ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, tidak akan ada rasa lapar, dan kedua, tubuh akan mulai membakar timbunan lemak dalam jumlah yang lebih banyak. Ketika diet dijalankan selama 24 jam penuh, tubuh akan tetap berada dalam tipe pembakaran lemak. Semakin berat tubuh, maka semakin banyak penurunan bobot tubuh Anda," tukasnya.

Kontroversi diet
Dr Shidrawi menambahkan, tidak makan selama 10 hari bisa menghilangkan pikiran dari makanan yang bagi beberapa orang bisa dikaitkan dengan perasaan stres serta perasaan bersalah. Namun meskipun hasilnya memuaskan, amankah diet dengan cara ini?

Menurut dr Shidrawi, diet ini sebenarnya aman karena setiap pasien akan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan terlebih dulu. Shidrawi mengakui bahwa diet ini memiliki efek samping, yaitu sembelit, karena tubuh kekurangan serat. Efek lainnya adalah nafas yang kurang sedap karena ketones (zat sisa yang dibuang ketika pembakaran lemak) ini dibuang melalui urin dan nafas. Selain itu, meski Anda tidak akan merasa lapar, namun Anda akan merasa sangat lelah.

Karena pola diet yang ekstrim ini, Shidrawi merekomendasikan untuk menurunkan berat badan 2-4 kg saja per minggu, dan dalam jangka waktu yang lama. "Selama waktu itu, Anda bisa belajar bagaimana  mengatur asupan makanan yang masuk dengan lebih baik. Selain itu  psikologis dan emosional yang biasanya ditujukan ke makanan bisa dikontrol dengan tepat," beber Helen Bond, ahli diet sekaligus pembicara untuk British Dietetic Association.

Seharusnya, program diet tidak menyiksa diri sendiri. Menjaga pola makan seimbang dan menghitung kalori, diimbangi olahraga teratur, sepertinya merupakan cara yang paling tepat untuk menjaga bentuk tubuh dan berat badan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau