JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha Dharmawati sempat mengancam akan permalukan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar atas ulah anak buahnya, Sekretaris Ditjen Pengembangan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi (P2KT) Kemennakertran, I Nyoman Suisnaya. Hal itu terungkap dari rekaman penyadapan yang diputar dalam persidangan kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi dengan terdakwa I Nyoman Suisnaya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/3/2012).
"Awas saja besok saya ketemu Muhaimin bagaimana, di depan orang-orang itu saya akan buka itu kartunya si Nyoman. Kalau perlu saya buka itu kuitansi di depan Muhaimin. Saya kasih malu Muhaimin di situ biar tahu inilah kelakuan si sesdir (Nyoman)," kata Dharnawati kepada Direktur PT Alam Jaya Papua, Syamsu Alam, seperti dalam rekaman percakapan telepon yang diputar.
Menurut Dharnawati, rekaman pembicaraan yang bernada ancaman itu dilontarkannya lantaran kesal terus didesak untuk membayar commitment fee. Nyoman, salah satu orang yang mendesak Dharnawati.
"Itu sebenarnya manuver-manuver saya, itu terkait karena mereka juga manuver ke saya, itu kemarahan saya saja kepada mereka, saya sudah terlalu terdesak karena mereka terus minta commitment fee, karenanya saya juga marah," ujar Dharnawati.
Dharnawati mengatakan, dirinya akan mengungkapkan di hadapan Muhaimin kalau Nyoman membawa-bawa nama Fauzi, orang dekat Muhaimin. "Karena terkait ada telepon dari Nyoman yang bawa-bawa nama Fauzi yang katanya orang menteri, disitu saya juga mulai kesal," katanya.
Dalam rekaman tersebut, Dharmawati juga menyebut akan menelepon orang dekatnya, Dhani Nawawi untuk melaporkan perbuatan Nyoman ke Komisi Pemberantasan Korupsi.
Seusai persidangan, Dharna menjelaskan kalau pertemuannya dengan Muhaimin tidak pernah terjadi. Saat melakukan pembicaraan dengan Syamsu Alam itu, Dharnawati marah atas ulah pensiunan Kementerian Keuangan, Sindu Malik Pribadi yang berusaha mengutak-atik 4 daerah dari proyek yang dialokasikan kepadanya. Ia mengaku heran mengapa Nyoman bisa dengan mudahnya dikendalikan oleh Sindu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang