Dharnawati Ancam Permalukan Muhaimin

Kompas.com - 05/03/2012, 21:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pengusaha Dharmawati sempat mengancam akan permalukan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar atas ulah anak buahnya, Sekretaris Ditjen Pengembangan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi (P2KT) Kemennakertran, I Nyoman Suisnaya. Hal itu terungkap dari rekaman penyadapan yang diputar dalam persidangan kasus dugaan suap program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi dengan terdakwa I Nyoman Suisnaya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/3/2012).

"Awas saja besok saya ketemu Muhaimin bagaimana, di depan orang-orang itu saya akan buka itu kartunya si Nyoman. Kalau perlu saya buka itu kuitansi di depan Muhaimin. Saya kasih malu Muhaimin di situ biar tahu inilah kelakuan si sesdir (Nyoman)," kata Dharnawati kepada Direktur PT Alam Jaya Papua, Syamsu Alam, seperti dalam rekaman percakapan telepon yang diputar.

Menurut Dharnawati, rekaman pembicaraan yang bernada ancaman itu dilontarkannya lantaran kesal terus didesak untuk membayar commitment fee. Nyoman, salah satu orang yang mendesak Dharnawati.

"Itu sebenarnya manuver-manuver saya, itu terkait karena mereka juga manuver ke saya, itu kemarahan saya saja kepada mereka, saya sudah terlalu terdesak karena mereka terus minta commitment fee, karenanya saya juga marah," ujar Dharnawati.

Dharnawati mengatakan, dirinya akan mengungkapkan di hadapan Muhaimin kalau Nyoman membawa-bawa nama Fauzi, orang dekat Muhaimin. "Karena terkait ada telepon dari Nyoman yang bawa-bawa nama Fauzi yang katanya orang menteri, disitu saya juga mulai kesal," katanya.

Dalam rekaman tersebut, Dharmawati juga menyebut akan menelepon orang dekatnya, Dhani Nawawi untuk melaporkan perbuatan Nyoman ke Komisi Pemberantasan Korupsi.  

Seusai persidangan, Dharna menjelaskan kalau pertemuannya dengan Muhaimin tidak pernah terjadi. Saat melakukan pembicaraan dengan Syamsu Alam itu, Dharnawati marah atas ulah pensiunan Kementerian Keuangan, Sindu Malik Pribadi yang berusaha mengutak-atik 4 daerah dari proyek yang dialokasikan kepadanya. Ia  mengaku heran mengapa Nyoman bisa dengan mudahnya dikendalikan oleh Sindu.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau