Kisruh sepak bola

SBY: Selesaikan Konflik PSSI, Dengarkan Rakyat

Kompas.com - 06/03/2012, 03:12 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan sangat prihatin dengan konflik di tubuh PSSI yang kembali mengemuka di kepengurusan yang baru. Pemerintah tidak akan mencampuri persoalan itu, tetapi pengurus harus menghentikan konflik dan mencari solusi terbaik.

”Saya sangat prihatin dengan kejadian akhir-akhir ini, kembali yang ribut, yang ricuh, yang berselisih adalah pengurus organisasi olahraga sendiri,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Senin (5/3), di Kantor Presiden.

”Kita bersyukur SEA Games mencatat prestasi luar biasa. Rakyat senang sekali karena (terlihat) tanda-tanda kebangkitan (prestasi) olahraga kita itu. Tiba- tiba kita menerima kabar tidak baik, perselisihan, pertengkaran, bahkan sudah pada tingkat yang melukai rakyat. Rakyat ingin olahraganya maju, semangatnya tinggi, dukungan kepada sepak bola kita juga tinggi, tiba-tiba harus menerima keadaan seperti ini,” kata Presiden.

Presiden mengaku banyak menerima masukan agar pemerintah turut campur menyelesaikan perselisihan di tubuh PSSI. Namun, pemerintah memilih tidak ikut campur dan mengimbau pengurus PSSI menyelesaikan sendiri konflik itu berdasarkan statuta FIFA. Ia meminta PSSI mendengarkan suara rakyat dan mengedepankan kepentingan bangsa.

”Dalam sepak bola ada organisasi, ada PSSI di negara kita, yang tunduk pada statuta FIFA. Bahkan, di negara mana pun pemerintah tidak boleh begitu saja melakukan intervensi. Kalau pemerintah intervensi, biasanya langsung dibekukan. Kita tidak ingin sepak bola kita dibekukan FIFA,” katanya.

Presiden mengakui terpaksa turut campur dalam urusan sepak bola nasional. Pertama, sepak bola mengalami kemandekan sehingga ia mendorong pelaksanaan kongres sepak bola di Malang. Ketika ada suara penurunan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, ia menolak ide itu.

Intervensi kedua dilakukannya ketika PSSI mematok harga tiket yang cukup tinggi saat tim nasional berlaga di Piala AFF 2010. ”Saya bilang jangan begitu dong, rakyat sedang semangat-semangatnya (mendukung timnas) kok harga tiket dinaikkan,” katanya.

Terakhir, ketika terjadi lagi deadlock di kongres PSSI dan perselisihan itu sampai ke FIFA, Presiden mengaku mengundang ketua umum KONI, KOI, dan Menpora. Saat itu Presiden memerintahkan mereka melakukan pendekatan ke FIFA agar PSSI tidak dibekukan.

”Pemerintah tidak harus selalu campur tangan. Kita kasih kehormatan kepada pengurus PSSI, utamakan kepentingan bangsa, kepentingan rakyat. Kalau ada konflik, ada statuta FIFA, jalankan itu,” katanya.

Presiden menepis anggapan kalau prestasi sepak bola Tanah Air menurun. ”Sebenarnya tidak betul kalau (prestasi) sepak bola kita menurun. Tadi malam contohnya kita menonton tim U-21 luar biasa. Tim U-21 bertanding di Brunei, Andik dan kawan-kawan. Betapa bangganya rakyat kita melihat sepak bola kita sebenarnya memiliki potensi dan peluang untuk terus bangkit di forum Asia,” katanya.

Terkait kekalahan telak timnas senior 0-10 dari Bahrain, Presiden menyatakan, jika ada perilaku wasit yang tak baik dan ada yang keberatan, ia mempersilakan PSSI untuk menyampaikan keberatan itu. Di sisi lain, ia juga meminta PSSI untuk introspeksi atas kekalahan itu. (why)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau