Aktor Hollywood Klaim Petugas Imigrasi Minta Suap

Kompas.com - 06/03/2012, 06:49 WIB

LOS ANGELES, KOMPAS.com -- Aktor Hollywood Taylor Kitsch mengatakan petugas imigrasi meminta suap saat ia hendak memasuki sebuah bandar udara di Indonesia untuk keperluan pengambilan gambar film Savages.

Kitsch mengatakan hal itu dalam acara bincang-bincang yang dipandu David Letterman di Amerika Serikat.

Savages disutradarai oleh Oliver Stone dan berkisah tentang sisi gelap bisnis perdagangan narkoba kartel Meksiko di LA. Film itu juga dibintangi oleh Aaron Johnson dan Blake Lively.

Sebagian pengambilan gambar film ini dilakukan di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.

Namun dalam wawancara itu, Letterman keliru menyebut Indonesia dengan Filipina dan Kitsch tidak berusaha mengoreksinya.

Kitsch mengatakan ia baru saja tiba dari Jepang ketika seorang petugas Imigrasi mengatakan bahwa ia harus terbang kembali ke Jepang karena sudah tidak ada lagi halaman di paspornya.

“Saya berada di ruang belakang dan petugas itu mengatakan, ‘Anda harus kembali ke Jepang karena halaman di paspor anda sudah habis, saya tidak bisa membubuhkan stempel. Anda harus pergi.’ Saya mengatakan, ‘Saya bisa bekerja di sini, saya punya visa.’ Ia tidak percaya bahwa saya adalah seorang aktor sehingga saya harus mempromosikan diri saya kepadanya,” kata Kitsch.

Kitsch menggunakan iPhone miliknya untuk menunjukkan trailer film terbarunya John Carter.

“Komputer mereka tidak berfungsi jadi saya katakan padanya, ‘Anda harus mencari nama saya, saya bisa menunjukkan sesuatu untuk membuktikan (bahwa saya adalah aktor) dan petugas itu kembali mengingatkan bahwa saya harus terbang kembali ke Jepang. Lalu saya mencari di iPhone saya dan ia mengatakan, ‘Apakah Anda bisa memberikan itu (iPhone) ke saya? Saya jawab, ‘Bisa asal Anda mengizinkan saya masuk,” kata Kitsch.

Menurut Kitsch, petugas tersebut akhirnya mengizinkan ia memasuki bandara. “Ia mengatakan, ‘Saya suka trailer, silakan masuk.’ Jadi, John Carter berjasa membuat saya melewati Imigrasi.”

Juru bicara Direktorat Jendral Imigrasi, Maryoto, tidak mengangkat telepon selulernya saat dihubungi oleh BBC Indonesia.

Sementara itu pejabat Imigrasi Filipina Ruffy Biazon meminta Taylor Kitsch meminta maaf karena ‘membuat Filipina kehilangan harga diri.”

“Mungkin Tuan Kitsch dapat membantu kami memperbaiki harga diri badan imigrasi dan negara kami yang hilang,” kata Biazon seperti dikutip oleh media Filipina, ABS-CBN.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau