Ekonom senior ASEAN dari perusahaan keuangan UBS yang berbasis di Swiss, Edward Teather, memprediksi, BI akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). ”Selain BI Rate, alternatif lain untuk menjaga inflasi adalah meningkatkan giro wajib minimum,” kata Edward.
Dengan kenaikan harga premium yang diperkirakan mencapai 30 persen dari harga saat ini, BI akan menaikkan BI Rate secara bertahap. Pada akhir tahun 2013, kata Edward, BI Rate dapat mencapai 7 persen. BI Rate saat ini 5,75 persen.
”Setidaknya, sampai dengan 12 bulan ke depan, BI akan melakukan sesuatu. Sekarang ini, kan, BI Rate adalah di level rendah,” ujar Edward.
Berbeda dengan prediksi UBS, analis senior DBS Group, grup bank yang berpusat di Singapura, Eugene Leow, memprediksi langkah BI yang akan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin pada bulan ini. Alasannya, tren inflasi inti menurun hingga 3,6 persen pada Februari, terendah dalam 23 bulan terakhir.
Pada hari Kamis (8/3), BI akan menggelar rapat dewan gubernur bulanan untuk membahas berbagai hal. Salah satu hasilnya adalah BI Rate.
Tingkat BI Rate terus turun dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Bahkan, level 5,75 persen saat ini yang baru ditetapkan pada Februari merupakan yang paling rendah selama ini.
Namun, sebagaimana disampaikan Gubernur BI Darmin Nasution beberapa hari lalu, BI
Darmin beralasan, BI Rate tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi, tetapi ada faktor-faktor lain yang memengaruhi suku bunga acuan. Darmin juga mengkritik bank yang bersiap-siap menaikkan suku bunga kredit saat harga premium naik. Menurut dia, suku bunga tidak harus naik.
Menurut Edward, selama ini kebijakan BI Rate selalu pertimbangan menjaga pertumbuhan ekonomi. Faktanya, ekonomi Indonesia terus tumbuh.
Sepanjang tahun 2011, perekonomian Indonesia tumbuh 6,5 persen. Tahun 2012 ini juga diperkirakan masih akan tumbuh sekitar 6,5 persen.
”BI Rate dianggap sukses menjaga pasar. Dengan suku bunga rendah, prospek kredit untuk tumbuh sangat besar karena permintaan kredit tinggi dan bank mudah meminjamkan dana,” ujar Edward.
Sebelumnya, ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, mengemukakan, sebenarnya BI tidak perlu menjawab kenaikan inflasi—akibat kenaikan harga premium—dengan meningkatkan level BI Rate. Alasan BI selama beberapa waktu lalu, yakni menurunkan BI Rate untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sudah tepat.
Kepala UBS Indonesia Rajiv Louis menambahkan, pengurangan subsidi BBM merupakan langkah tepat. Hal ini dilihat dari kondisi pengamanan sumber daya alam pada masa mendatang dan efisiensi dana yang dapat diarahkan pada infrastruktur.
”Memang akan ada dampak mengejutkan, tetapi hanya sebentar,” ujar Rajiv.