BI Akan Membuat Langkah Strategis

Kompas.com - 07/03/2012, 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Rencana pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak dengan menaikkan harga bensin dan solar akan ditanggapi Bank Indonesia dengan langkah strategis menjaga inflasi. Langkah strategis itu dapat berupa penaikan atau penurunan suku bunga acuan.

Ekonom senior ASEAN dari perusahaan keuangan UBS yang berbasis di Swiss, Edward Teather, memprediksi, BI akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). ”Selain BI Rate, alternatif lain untuk menjaga inflasi adalah meningkatkan giro wajib minimum,” kata Edward.

Dengan kenaikan harga premium yang diperkirakan mencapai 30 persen dari harga saat ini, BI akan menaikkan BI Rate secara bertahap. Pada akhir tahun 2013, kata Edward, BI Rate dapat mencapai 7 persen. BI Rate saat ini 5,75 persen.

”Setidaknya, sampai dengan 12 bulan ke depan, BI akan melakukan sesuatu. Sekarang ini, kan, BI Rate adalah di level rendah,” ujar Edward.

Berbeda dengan prediksi UBS, analis senior DBS Group, grup bank yang berpusat di Singapura, Eugene Leow, memprediksi langkah BI yang akan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin pada bulan ini. Alasannya, tren inflasi inti menurun hingga 3,6 persen pada Februari, terendah dalam 23 bulan terakhir.

Pada hari Kamis (8/3), BI akan menggelar rapat dewan gubernur bulanan untuk membahas berbagai hal. Salah satu hasilnya adalah BI Rate.

Tingkat BI Rate terus turun dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Bahkan, level 5,75 persen saat ini yang baru ditetapkan pada Februari merupakan yang paling rendah selama ini.

Namun, sebagaimana disampaikan Gubernur BI Darmin Nasution beberapa hari lalu, BI belum mengubah target inflasi, yakni berkisar 3,5-5,5 persen pada tahun ini. BI juga berkeyakinan, kenaikan harga BBM yang memicu kenaikan inflasi tidak otomatis membuat BI Rate dinaikkan.

Darmin beralasan, BI Rate tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi, tetapi ada faktor-faktor lain yang memengaruhi suku bunga acuan. Darmin juga mengkritik bank yang bersiap-siap menaikkan suku bunga kredit saat harga premium naik. Menurut dia, suku bunga tidak harus naik.

Menurut Edward, selama ini kebijakan BI Rate selalu pertimbangan menjaga pertumbuhan ekonomi. Faktanya, ekonomi Indonesia terus tumbuh.

Sepanjang tahun 2011, perekonomian Indonesia tumbuh 6,5 persen. Tahun 2012 ini juga diperkirakan masih akan tumbuh sekitar 6,5 persen.

”BI Rate dianggap sukses menjaga pasar. Dengan suku bunga rendah, prospek kredit untuk tumbuh sangat besar karena permintaan kredit tinggi dan bank mudah meminjamkan dana,” ujar Edward.

Sebelumnya, ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, mengemukakan, sebenarnya BI tidak perlu menjawab kenaikan inflasi—akibat kenaikan harga premium—dengan meningkatkan level BI Rate. Alasan BI selama beberapa waktu lalu, yakni menurunkan BI Rate untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sudah tepat.

Kepala UBS Indonesia Rajiv Louis menambahkan, pengurangan subsidi BBM merupakan langkah tepat. Hal ini dilihat dari kondisi pengamanan sumber daya alam pada masa mendatang dan efisiensi dana yang dapat diarahkan pada infrastruktur.

”Memang akan ada dampak mengejutkan, tetapi hanya sebentar,” ujar Rajiv. (IDR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau